AAC di Canberra

April 22, 2008 at 1:04 pm 4 komentar

’Ayat-Ayat Cinta’ Digandrungi karena Menyodorkan Budaya Konsumtif

Senin, 21 April 2008 08:18

Canberra, NU Online

’Ayat-Ayat Cinta’ (AAC) baik film maupun novelnya digandrungi karena berhasil memenuhi kebutuhan kalangan Muslim di Indonesia untuk mengkonsumsi budaya-budaya yang dianggap bernilai islami.

Menjadi Muslim ternyata tidak cukup hanya dengan bersyahadat, shalat, zakat, tirakat dan berhaji di tanah Arab. Seseorang merasa lebih mantap menjadi Muslim dalam tatanan dunia pasar bebas ini dengan mengkonsumsi barang-barang dan budaya-budaya islami itu.
Demikian dikemukakan Amrih Widodo, antropolog dan pakar pop-culture dari Australian National University (ANU) dalam diskusi Fenomena Ayat-Ayat Cinta yang diselenggarakan Pengurus Cabang istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Canberra bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) ANU dan Minaret—sebuah kelompok studi sosial keagamaan di Canberra, Kamis (17/4) lalu.

Para panelis, demikian dilaporkan kontributor NU Online di Canberra Yasir Alimi, menilai, AAC lahir karena tuntutan mapannya Muslim kelas menengah ke atas, yang terbentuk sejak ‘Haji Suharto’ menampilkan identitas Islam.

Kemapanan kelas menengah atas ini, menurut Amrih, melahirkan kebutuhan dan sirkulasi barang yang bernilai Islam. Kesuksesan AAC karena ‘ideologi estetik popular’ yang mengondisikannya.

Menurut Amrih, AAC dianggap memberikan teladan nilai-nilai Islam serta juklak untuk hidup secara Islami. “Ia memberikan ‘manual for living in Islamic ways’,” katanya.
Namun Islam yang disajikan di sana ternyata Islam model “Ikhwan”. Demikian tegas Nabiela, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya yang menjadi pembicara setelah Amrih. Hal ini tampak di antaranya dalam penolakan Fahri untuk bersalaman dengan perempuan yang bukan muhrimnya, walaupun dengan penolakan itu Fahri masih sering ber-khalwat (mojok) dengan Maria.

Meski ada elemen-elemen yang menarik seperti pembelaan Fahri terhadap seorang Amerika diatas bus kota, namun secara umum Islam yang ditampilkan AAC, menurut Nabiela, adalah “Islam Timur Tengah” daripada “Islam Indonesia”.

Hal itu disepakati Amrih dengan mengutip tulisan Hanung–sang sutradara film, yang menganggap dirinya mengamati Islam ‘dari dekat sekali’ ketika ia sedang mempersiapkan film tersebut di Kairo.

Dalam kesempatan yang sama, Aris Mundayat—Dosen senior Anthropologi UGM—menegaskan bahwa AAC adalah bentuk moral panics kelas menengah atas serbuan budaya pop barat yang luar biasa deras. Saking derasnya pemerintah pun tak kuasa menahan lajunya.

Disamping kepanikan simbolik ini, kelas menengah juga menghadapi kepanikan yang sangat riil, yaitu drug. “Oleh karena itu, kalau tahun 80-an di kelas saya hanya 1 atau 2 orang yang pakai jilbab sekarang banyak sekali. Pembengkakan jumlah jilbaber ini tidak hanya terjadi di dalam kelas tapi juga di luar kelas,” tandasnya.

Yang mencengangkan, menurut Aris, AAC hamper sama dengan film 30/S/PKI dalam penggalangan penonton. Kalau film PKI yang menggerakkan adalah pemerintah, film AAC yang menggerakkan adalah lembaga kerohanian yang menguasai SMA-SMA. Lembaga kerohanian ini adalah perluasan setelah dikuasainya kampus-kampus umum.

Salah satu contoh penguasaan yang nyaris sempurna adalah di sebuah SMAN favorit di Yogyakarta. Disana siswa saling mengawasi (surveillance). Kalau ada siswa yang berpacaran dengan tidak secara Islami, maka akan dilaporkan.

“Penguasaan itu berkembang menjadi diskriminasi sehingga para alumni yang beragama non-Muslim pun sekarang juga takut menyekolahkan anaknya disekolahan tersebut,” katanya. (yas)

 

Entry filed under: News. Tags: , , , .

Udah Kalah mah, mengaku Kalah sajalah… Trimakasih Axis

4 Komentar Add your own

  • 1. FraterTelo  |  April 25, 2008 pukul 4:33 am

    AAC sepertinya menjadi embun yang memuaskan dahaga masyarakat indonesia akan film2 religi yang seperti ini>

    Balas
  • 2. Tgk. Alex  |  April 27, 2008 pukul 4:00 pm

    Ada benarnya juga sih, Bu, analisa begitu itu. Kawan saya malah menganalisa ke karakter tokohnya itu, yang menjadi seperti pop-culture dengan polesan Islami saja.

    Balas
  • 3. ita cdps  |  Mei 7, 2008 pukul 2:57 am

    halo ibu, makasih postingan blog yang ini.saya sedang ngerjain skripsi tentang AAC, jadi bahan ini sangat bermanfaat banget buat saya.makasih banget. oiya. kalo boleh, apa saya bisa minta sumber berita/postingan file ini?atau ibu punya materi2 tentang ayat2 cinta yang lain mungkin?untuk pembaca blog ini dan punya bahan2 tentang AAC, lebih2 yang berhubungan dengan integrated marketing communication strategic nya, bisa tolong menghubungi saya?makasih banget sebelumnya.
    alamat email saya: ps4maila@gmail.com

    Balas
  • 4. Fien Prasetyo  |  Mei 28, 2008 pukul 4:40 pm

    buat aku AAC bukan film religi…AAC tetap sama seperti film2 drama percintaan lain. pasokan religiusnya hanya sebatas “bumbu penyedap” saja, sementara yg lebih banyak dieksplore adalah kesedihan, keharuan, dan adegan2 sedih lainnya…dan ujung2nya cinta-cintaan juga kan…knapa org banyak menonton film ini ? tdk lain tu lebih pd good management yg mempromosikan film ini. selebihnya krn euforia AAC aja.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: