Kuliah Ideal

Maret 27, 2008 at 5:19 pm Tinggalkan komentar

Ada seorang dosen senior pernah protes karena mahasiswa di kelasnya tidak memperhatikan pelajaran, malah justru bercanda dan bergurau dengan teman-temannya. Ia merasa tersinggung, dan melaporkan kelakuan mahasiswa yang dianggapnya tidak sopan itu kepada dekan. Setelah diusut perkaranya, ternyata akar masalah ini bukan hanya berasal dari kesalahan mahasiswa, tetapi pada dirinya sendiri. Mahasiswa bergurau karena merasa bosan mendengarkan ‘dongeng’ yang dibacakan oleh sang dosen dari diktat 10 halaman miliknya.Hal itu memang bukan persoalan baru dalam dunia perkuliahan. Dalam sebuah kesempatan dialog mahasiswa dengan bidang akademik IAIN Walisongo, seorang mahasiswa mengkritik habis-habisan beberapa dosen yang menurutnya tidak bermutu. Dosen-dosen yang tidak siap dengan materi yang diajarkan, sehingga hanya memberikan ceramah ngalor-ngidul tentang anak-anak dan tetangganya, atau bercerita pengalamannya di luar negeri yang sama sekali tidak *nyambung * dengan bahan kuliah. Dosen yang selalu mengancam akan memangkas nilai jika ada mahasiswa yang kritis mengkritik.Mahasiswa itu menuntut agar dalam mengajar, hendaknya dosen tak melulu memberikan ceramah. Metode ceramah seakan menempatkan mahasiswa sebagai botol kosong yang harus diisi. Padahal menurutnya, mahasiswa adalah manusia dewasa. Mereka sudah memiliki bekal potensi dan referensi dari berbagai sumber, bukan lagi botol kosong yang harus diisi dengan ceramah-ceramah sang dosen.

Di era informasi, sumber pengetahuan bisa didapatkan dari mana saja, bukan semata-mata dari dosen. Dosen hanya sebagian keci  dari sumber informasi.  Justru di luar itu, banyak informasi yang bisa didapatkan melalui buku-buku, jurnal, koran, internet, seminar-seminar dan sebagainya. Oleh karena itu, kalau dosen masih beranggapan bahwa dialah satu-satu sumber informasi, maka dia akan ketinggalan dari dunia informasi yang lain. Apalagi kalau stok informasi yang dimilikinya tidak selalu di-*upgrade*, maka jelas dia akan terlihat ‘kuper’.

Betapa idealnya seandainya idealisme mahasiswa tersebut merupakan gambaran mayoritas mahasiswa kita dan kemudian diimbangi dengan idealisme dari dosen untuk meningkatkan semangat keilmuannya. Berangkat dari pengalaman saya lebih kurang selama delapan tahun sebagai dosen yang belum senior, menunjukkan bahwa prosentase mahasiswa yang mempunyai kesadaran intelektual dan idealisme jumlahnya sangat kecil. Dalam satu kelas rata-rata kurang dari dua puluh lima prosen, sedang yang lainnya biasa-biasa saja dan lebih banyak
pasif.

 

Entry filed under: kampus, Pendidikan. Tags: , , .

Falling in between Live Dosen bikin Jum’at=Bete

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: