Memanjakan anak, menjerumuskannya

November 23, 2007 at 4:01 am 3 komentar


Seringkali secara tidak sengaja, biasanya untuk menumpahkan kasih sayang, memperlihatkan bahwa kita sayang sekali pada si kecil, kita memanjakan anak dengan berlebihan tanpa disadari efek yang terjadi di masa depan anak. Padahal dengan kemanjaan itu bisa membuat anak tidak survive saat ia dewasa kelak. Ia akan selalu ragu untuk melangkah, tidak yakin mana yang benar dan mana yang salah, tidak percaya diri, karena di tiap langkahnya selalu ada bayangan orangtuanya, biasanya terutama ibunya. 
Apalagi untuk ibu yang bekerja di luar rumah, untuk menebus perasaan bersalah pada anak-anak, seringkali kemanjaan itu diperlihatkan dengan gaya hidup yang konsumtif, memberikan apapun yang anak mau tanpa melihat fungsi, kegunaan benda itu, asal anak senang, maka hilanglah perasaan bersalah itu. Lalu biasanya anak akan sukar untuk mensyukuri apa yang ia miliki, cenderung boros dan senang berfoya2 saat ia bertambah besar. Tidak empati pada sesama, menyepelekan orang yang dibawahnya. Ia juga tidak akan mengerti bahwa uang atau materi yang ia dapatkan adalah hasil kerja keras kedua orang tuanya.Juga dengan membiarkan apapun kesalahan yang diperbuat anak, yah biarlah toh masih anak-anak. Padahal menurut seorang psikolog, pendidikan untuk anak itu akan lebih mudah masuk ketika anak itu berusia dibawah 8 tahun, bila diatas usia itu akan lebih susah lagi untuk mendidiknya. Apapun kesalahan anak tentunya harus diberi sangsi, tentunya sangsi yang tidak berbentuk kekerasan dalam rumah tangga.

Akan lebih mudah bila pola pendidikan dimulai sejak anak masih kecil atau sejak anak masih di dalam kandungan. Dimulai dengan bacaan2 Al Qur’an saat anak tengah dikandung, dibiasakan bacaan Al Qur’an itu untuk didengar telinga anak sejak masih bayi sampai seterusnya, lalu mata anak tidak dimanjakan oleh tontonan2 TV yang tidak ada gunanya atau dibiasakan dengan tontonan orang dewasa, seperti sinetron dimana anak itu belum bisa mencerna apa yang dilihatnya. Orang tua harus pandai-pandai memilih tontonan yang baik untuk sang anak. Bila tidak ada lebih baik tidak menonton TV.

Kemudian  hal  yang penting lagi, menurut seorang psikolog adalah tidak memaksakan kehendak dan memperlakukan anak sesuai usianya. Seringkali orang tua ingin menjadikan anak sebagai little parent, anaknya suka seni orang tua memaksakan ia harus jago bisnis seperti ayahnya. Melihat kelebihan anak di segi apa, misalnya tidak memaksa anak harus pintar matematika sementara si anak lemah di bidang itu, karena untuk survive yang dilihat kan tidak dari IQ saja tapi bisa juga dilihat dari EQ anak. Bila anak masih TK atau SD perlakukan sesuai usianya, juga dalam hal memberi sangsi, tidak memperlakukan anak yang masih SD atau TK dengan didikan anak2 yang sudah masuk SMP atau SMU, atau sebaliknya tidak memperlakukan anak yang telah SMU seolah2 ia masih anak kecil saja.

Entry filed under: Pendidikan. Tags: , , .

Fenomena Kekerasan ABG Nge-Blog Sembari Meraup Dollar

3 Komentar Add your own

  • 1. Ersis WA  |  November 24, 2007 pukul 2:28 pm

    Dalam mendidik anak, memanjakan dan tidak memanjakan, sama pentingnya, yang paling penting penempatan atau kapan harus memanjakan dan kapan harus memberi pelajaran. Kira-kira begitu kan praktiknya.

    sayangnya ibu2 sering tidak bisa menempatkan, kapan harus memanjakan, kapan harus memberi sangsi, termasuk saya🙂

    Balas
  • 2. Kurt  |  November 26, 2007 pukul 3:10 am

    Teori yang gampang diterapkan… tapi membutuhkan pemahaman bersama. Syangnya ada tipe-tipe Ibu rumah tangga yang reaktif ada yang solusif.. mungkin teori ini sangat cocok bagi pribadi-pribadi yang solusi bukan reaktif… kita sering mendengar bagaimana si anak dimarahi habis-habisan… namun juga seringkali dibelih-lebihkan (manja)… Kayanya memang harus tegas intinya ya mbak!

    Ohya, menarik juga tuh, jika anak didengarkan Quran kira2 apa yang pengaruhnya… biasanya kan dengna mendengarkan musik2 tapi kalau dg. quran belum ada penelitiannya atau sudah yaa…

    Yah, bagi ibu yang tengah stress kadang lupa menumpahkan kekesalan pada anak yang tidak berdosa, ada pula ibu yang memanjakan dengan berlebihan, melupakan kalau cara itu tidak mendidik, sepertinya memang diperlukan ketegasan terutama untuk diri si ibu itu sendiri..

    Saya dengar sih, bila anak dibiasakan mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari sejak berada dalam kandungan maka saat ia besar akan lebih mudah menghafal dan tentunya akhlaknya juga akan mencerminkan seperti Al Qur’an berjalan, tentunya bila semua hal mendukung ke arah sana, orang tua, lingkungan, bacaan, tontonan, teman2, sekolah dan lain-lainnya

    Balas
  • 3. benbego  |  November 27, 2007 pukul 1:00 am

    klo menurut saya pendidikan emosional yg sangat penting. sejak dini harus sudah diajarkan. Terkadang anak masih kecil jaman sekarang udah berani melawan orang tua bahkan sampai fisik. Rasanya memang perlu di awasi tingkat kemanjaan seorang anak. jangan sampai menyesal di kemudian hari.

    Sepakat, jangan sampai terfikir hanya karena ia masih anak2 maka pendidikan emosional dilupakan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: