Fenomena Kekerasan ABG

November 15, 2007 at 5:23 pm 8 komentar

Geng di SMA 34 Siksa Yunior
Para Siswa Senior Anggota Geng Juga Melakukan Pemalakan
Jakarta, Kompas – Kekerasan di kalangan remaja kian merebak dan terorganisasi. Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, disiksa seniornya hingga menderita patah tulang. Fadhil diduga dianiaya anggota geng Gazper, yang beranggota ratusan siswa SMA 34.
Kekerasan itu terungkap lewat penuturan Herry S Sirath, orangtua Fadhil. Penyiksaan itu ditengarai juga terjadi terhadap siswa kelas X (kelas I) lainnya hingga beberapa siswa juga mengalami patah tulang. Penyiksaan terhadap Fadhil dan siswa lainnya diduga dilakukan siswa kelas XII (kelas III) anggota geng itu.

Semakin banyak tindak kekerasan yang dilakukan siswa bahkan siswi ABG anak anak remaja, pemalakan, geng motor, penyiksaan, tawuran belum lagi narkoba, obat-obat terlarang, sex bebas, sangat mengerikan untuk seorang ibu yang punya anak2 menjelang remaja.“Kita harus bisa mendidik secara benar dan semaksimal mungkin, selebihnya kita hanya bisa berdo’a menyerahkan semuanya pada Yang Diatas” begitu adikku bilang, ia pula yang memberiku do’a supaya dibacakan sehabis shalat untuk semua putra-putri kecil di keluarga:
Allahumma faqihhu fiddin wa alimhu hikmataka wa ta’wilhu Qur’an fansuruhu (Ave, Anne, Dea, Inka, Cantiqua, Satria, Farida) waj’alhu min ibadika shalihin. Amien
Semoga kehidupan mereka selalu berada dalam lindunganNya, tak ada kenakalan2 yang terjadi pada mereka, tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, AmiienLalu ingat nasihat dari ibu psikolog di sekolah Anne saat pembagian laporan pra evaluasi:

  • Bagaimanapun keadaan, tingkah, laku anak kita suatu saat, jangan pernah salahkan siapa-siapa, jangan salahkan guru, lingkungan dan lain-lain. Bagaimana anak kita saat ini atau nanti itu adalah hasil didikan orangtuanya. Berapapun mahalnya biaya uang sekolah tidak akan menjamin hasil didikannya membentuk anak yang pintar dan baik etikanya, bila dirumah pendidikan nya tidak sejalan dengan apa yang dilaksanakan di sekolah. Misalnya disekolah diwajibkan untuk shalat tepat waktu, dirumah dibiarkan meski tidak shalat dan orang tuanya tidak terlihat shalat, maka hasil didikan di sekolah akan sia-sia.
  • Perlakukan anak sesuai usianya, beri sangsi bila ia salah dan ajari untuk disiplin. Beri tahu dengan kasih sayang bahwa yang baik itu baik yang salah tidak boleh dikerjakan, dan pelajaran yang baik untuk anak adalah learning by doing. Bagaimana anak tahu kalau ia salah bila tak diberitahu, bila orangtuanya membiarkan saja apa kesalahan anaknya. Bagaimana anak bisa disiplin shalat, belajar, mengaji dll bila melihat orangtua hidup seenaknya, tidak pernah shalat, ngaji, bahkan orangtuanya jarang sekali menyentuh Al Qur’an. Bagaimana anak tidak konsumtif bila orangtuanya memanjakan anak2nya dengan barang2 yang sebenarnya tidak ada gunanya. Semuanya harus dimulai sejak kecil, bila anak sudah melebihi 8 tahun saja akan sangat susah untuk menerapkan didikan2 yang diberikan. 
  • Bila anak dibiarkan saja sejak kecil, tidak diberitahu, maka silahkan diterima bila saat ia besar nanti susah diatur bahkan berani melawan orangtuanya sendiri. Jangan salahkan anak, jangan salahkan sekolah, jangan salahkan guru, di sekolah cuma beberapa jam saja, selebihnya anak bersama orangtuanya.

Entry filed under: Inspiring. Tags: , , , .

gO bloGG Memanjakan anak, menjerumuskannya

8 Komentar Add your own

  • 1. bunda nanay  |  November 16, 2007 pukul 7:16 am

    Puihhh.. bisa ga yah saya mendidik nanay dengan baek .. yang jelas saya selalu berdoa Nanay dan smua orang yang saya cintai selalu diberikan kesehatan lahir bathin.. dijauhkan dari marabahaya .. dan selalu dalam lindungan-Nya .. Amin😦

    Insya ALLAH, bisa Bun, Bunda Nanay kan baik hati dan tidak sombong🙂 . Semoga Nanay beserta keluarga selalu berada dalam LindunganNya, selalu bahagia lahir dan bathin dimanapun berada, dirahmati di dunia dan Akhirat, Amien Allahuma Amien.

    Balas
  • 2. Ersis WA  |  November 17, 2007 pukul 8:40 am

    Masalahnya … para pemimpin negara yang hebat-hebat ini … kerjaannya korupsi … dagang hukum … latihan tinju di DPR … polisi nembak TNI … guru (dosen) minta dibayri dengan berbagai alasan dan modus … ngurus banjir ngak becus … nertipkan bandara aja nga mampu … lebioh celaka … rakyat yang lain ho oh saja. (Kembangan dari OM Pasikom, Kompas, 17-11-2007).

    Balas
  • 3. pani  |  November 17, 2007 pukul 11:44 pm

    pemerintah mmang hrsnya lbh tegas…
    klau perlu tangkepin ja tuh semua…

    Balas
  • 4. alief  |  November 20, 2007 pukul 7:56 am

    bukti bahwa pola pendidikan Indonesia tidak benar???

    Balas
  • 5. Nana  |  November 20, 2007 pukul 9:27 am

    point2 diatas benar adanya, seringnya orang tua tidak bisa membedakan mana kasih sayang, ketegasan, disiplin dan memanjakan sehingga anakpun tumbuh menjadi pribadi yang konsumtif, cenderung memberontak, tidak berempati. Saya bisa bilang begini karena ini terjadi pada keluarga saya sendiri terutama pada adik tiri saya yang paling bungsu. Bayangkan masa depan bangsa ini jika penerusnya saja seperti ini. (fieeuuuh).

    Balas
  • 6. lenijuwita  |  November 20, 2007 pukul 1:36 pm

    Untuk pola pendidikan sesungguhnya harus saling mendukung, mulai dari keluarga, lingkungan, pemerintahan. Orangtua harus membekali anak dengan IQ dan EQ yang baik. Tidak membiarkan anak menjadi pribadi yang manja, konsumtif dan tidak berempati. Pemerintah harus menciptakan sistem pendidikan yang baik mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, jangan hanya sibuk memikirkan perutnya sendiri. Sangat tak masuk akal bila anggaran pendidikan di APBD lebih kecil daripada anggaran untuk renovasi rumah dinas Bupati atau Gubernur.

    Balas
  • 7. mahligai667  |  November 21, 2007 pukul 3:55 pm

    klihatannya tags anda perlu diubah deh mbak..
    coz anarki itu bukan kekerasan
    anarki adalah sebuah bentuk filosofi tanpa otoritas
    ga ada hubungan sama sekali dengan kekerasan
    untuk mengetahui tentang anarki lebih lanjut
    anda bisa kunjungi http://pustaka.otonomis.org/
    atau http://ind.anarchopedia.org/
    terima kasih

    Oh gitu ya mas? anarki tidak berhubungan dengan kekerasan, makasih ya saya ubah deh tagnya

    Balas
  • 8. rudyhilkya  |  November 25, 2007 pukul 10:54 am

    sekolah perlu membuka pendaftaran geng aja secara resmi, biar jika ada penyiksaan-penyiksaan seperti ini segera ada tindak balas bukan serba menunggu,
    maka ada Polisi Masyarakat …. biar di-polisi-kan sekalian ajah geng-geng ini.

    Belum ilang dari cerita geng motor, muncul lagi geng gesper …. apa semua anggota geng pake pending ?

    Trus mba leni, tuliskan berita-berita semacam…. praktik bullying semacam ini harus ditumpas ke akar-akar nya !!!!

    Siap Mas, saya juga geram liat berita2 penyiksaan macam ni

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: