Rumus Kaya dan Penghasilan Dosen

Oktober 20, 2007 at 4:40 pm 26 komentar

1372215938_f0d23f0219_m.jpg

Apakah kita termasuk orang kaya, rata-rata atau miskin, sekarang bisa dihitung menggunakan rumus (diambil dari acara talkshow Moneytalks host : Safir Senduk) :

Hasil = (usia : 10) X pendapatan bersih setahun

Misalnya usia 30 tahun dan pendapatan bersih selama 1 tahun 100 juta maka 30/10 dikali 100 juta hasilnya 300 juta.

Bila hasilnya > 300 juta termasuk kaya

        Hasilnya = 300 juta rata-rata

        Hasilnya < 300 juta termasuk miskin

Atau misalnya pendapatan satu tahun tidak mencapai 100 juta tapi kita memiliki rumah, mobil atau harta lain yang apabila dihitung jumlahnya melebihi 300 juta, maka kita masih termasuk orang kaya. Cuma sayangnya kalau harta kita adalah hibah dari orang tua misalnya, itu tidak bisa dihitung sebagai kekayaan, karena di Indonesia, sebanyak lebih dari 80% orang Indonesia yang disebut kaya adalah bukan karena bantuan dari orang tua, tapi didapatkan dari hasil keringat sendiri.

1270661180_abda4df6ab_m.jpg Nah, sekarang saya bisa menghitung, ternyata saya masih jauh dari orang yang disebut kaya😦 . Iyalah bagaimana bisa disebut kaya, semua orang tahu, di dunia saya yang PNS dibidang pendidikan, seorang yang bergelar Prof. saja dengan masa kerja 15 tahun  Gaji bersihnya 3 juta/Bulan dan saya belum Profesor, artinya gaji saya per Bulan kurang dari 3 juta. 

Anehnya atau untungnya ya? Saya tidak merasa miskin, mungkin karena saya selalu melihat masih banyak orang yang kekurangan, tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, saya selalu bersyukur, meski ibu kadang suka marah, “kalau selalu melihat kebawah kamu tuh tidak akan pernah maju, paling juga jalan di tempat” begitu ibu bilang. Yah, ibu ada benarnya, tapi saya pernah kerja di Industri yang jam kerjanya ketat dan honornya lebih besar dari PNS, Cuma yang saya rasakan dari gajian ke gajian itu sehari serasa sebulan atau malah setahun, jadi meski honnornya besar saya ngga tahan dengan ketatnya jam kerja. Masuk manusia jenis pemalas kali ya🙂

PNS standar gajinya sama karena penggolongannya pun sama (diluar pejabat dan anggota DPR), jadi bila ia kaya pasti ia punya penghasilan tambahan.

Dosen  bisa kaya dan jauh melebihi mereka yang bekerja di industry, karena beberapa sebab

          Punya projek, partner dengan teman-teman atau bekas mahasiswanya yang punya jabatan di industry.

          Menemukan suatu hasil penelitian yang berguna untuk masyarakat luas kemudian di komersilkan

          Punya perusahaan sendiri bisa sebagai konsultan, konstruksi, pengadaan atau jasa training dan lain-lain

          Baru pulang dari Luar Negri setelah menempuh pendidikan lanjutan, masih tersisa tabungan sisa beasiswa atau dosen tersebut menyambi kuliah sambil bekerja

          Universitas memenangkan hibah, dosen ikut sebagai team yang menggoalkan hibah tersebut

          Dosen mengajar di berbagai universitas atau di satu universitas tapi berbagai kelas, mulai dari kelas regular, ekstensi, eksekutif D1, D2, D3 sampai D4, S1, magister atau program Doktor dan di berbagai jurusan

          Dosen sebagai penulis yang artikelnya sering dimuat media nasional atau local atau punya buku dan bukunya Best Seller

          Dosen sebagai anggota DPR, atau punya jabatas structural di pemerintahan, misalnya sebagi menteri atau asisten ahli pejabat

Bedanya Dosen PTS dan PTN

          Dosen PTN menjadi dosen karena memang keinginan sejak awal biasanya selagi masih mahasiswa sudah direncanakan cita-citanya memang ingin menjadi Dosen di PTN tersebut, dan tidak semua bisa diterima sebagai dosen karena persaingan yang ketat. Biasanya mahasiswa terbaik lalu direkruit sebagai Dosen.

          Dosen di PTS, sekitar setengahnya, menjadi Dosen karena tidak diterima di Perusahaan lain, daripada tidak bekerja maka ia terima kerjaan sebagai Dosen atau ada yang telah punya usaha sendiri, telah mapan sebenarnya, menjadi Dosen hanya karena ingin mengejar status sebagai Dosen, penghasilan tidak ia perhatikan karena hasil usahanya biasanya 10 kali lebih besar dari gaji dosen yang ia terima

Pengalaman teman-teman mereka punya penghasilan diluar gaji, banyak yang mengajar di Universitas lain, ada yang buka catering atau punya toko, atau diluar jam mengajar kerja di konsultan atau punya perusahaan sendiri, seperti jasa training, konstruksi  dan lain-lain atau bisa juga karena orang tua mereka kaya sejak dulu. Saya kagum dengan mereka yang bisa meraih penghasilan tambahan diluar jam mengajar selama mereka tidak melalaikan kewajiban mengajar dan tanggung jawab terhadap mahasiswa.

Kecenderungan semakin kini semakin banyak expert yang bergelar master atau PhD yang menjual ilmunya dengan sangat mahal lewat jasa training ke perusahaan ternama, sampai sini sih tidak apa-apa, syah-syah saja, yang namanya ilmu, mahal bukan? Yang disayangkan adalah bila kewajiban utamanya mengajar mahasiswa, ia wakilkan ke asisten. Sekali-sekali sih tidak apa-apa mungkin ya, tapi kalau keterusan, kasihan mahasiswanya.

Jadi dosen yang mengandalkan gajinya hanya semata dari honor bulanan tidak mendapat penghasilan sampingan, sampai ia bergelar Profesor dan pensiunpun tidak mungkin memenuhi criteria kaya seperti rumus diatas. Salah sendiri  kenapa mau-maunya jadi Dosen dan tidak kreatif ?  😦

265248345_ed0bfcab24_m.jpgSebenarnya bisa kaya hanya dengan mengajar bila ia migrasi ke Negara lain, misalnya Malaysia, Singapura atau Negara maju yang lain. Dosen ITB banyak yang hijrah kesana, sangat disayangkan sebenarnya, karena pada umumnya jang hijrah adalah dosen-dosen terbaik yang dimiliki negeri ini. Atau banyak yang telah lulus PhD di Negara lain dan tidak mau pulang untuk mengabdikan dirinya di sini, kenapa? Karena bila pulang pun tidak ada yang bisa dikerjakan disini, mengingat fasilitas peralatan yang dipunyai universitas minim dan jabatan yang tidak mau diregenerasikan oleh dosen-dosen senior mereka. Seandainya pulangpun mereka hanya akan menjadi pembantu kakak2 angkatan yang telah lebih dulu jadi dosen. Juga tidak akan ada fasilitas perumahan, kendaraan yang disediakan oleh instansinya, dibandingkan dengan fasilitas yang diberikan di Malaysia misalnya.

Sekalinya berkunjung ke Malaysia, saya bisa ketawa sangat asem saat tanya ke supi taxi yang ternyata honornya melebihi honor saya sebagai dosen :( . Honor teman saya disana sebagi asisten dosen Malaysia  lima kali lebih besar dari honor dosen di Indonesia. Ia bilang dua kali ia mengajar di sana sebagai asisten honornya sama dengan 10 kali ia mengajar di sini sebagai dosen. Honor Profesor di sana 8 kali lebih besar honor Prof disini belum termasuk fasilitas yang disediakan. Siapa yang tidak tertarik untuk mengajar disana? Bagaimana tidak maju Malaysia bila dibanding Indonesia, bila perlakuannya memang peduli terhadap pendidikan. Dan tidak bisa sembarangan bisa mengajar disana, recruitmentnya ketat dan terikat kontrak, dievaluasi pertahun, bila tidak layak maka kontraknya tidak dilanjutkan. Ujian mahasiswa standar internasional, bila mahasiswa gagal, dosen harus bertanggung jawab.

Bandingkan dengan disini, siapapun bisa jadi dosen terutama di PTS, berhasil atau tidak mahasiswa bukan tanggung jawab dosen, layak atau tidak ia jadi dosen tidak pernah ada yang mengevaluasi. Selama ia hadir pada jam pelajaran, tidak masalah dan tidak ada yang bisa dituntut, meski pengajaran hanya berlangsung sekian menit sisanya dilanjutkan dengan take home test. Dan tiba saat mengurus kenaikan jabatan, skripsi mahasiswalah diganti namanya di cover berikut kata pengantar. Hitung dari sekian ratus dosen di PT, berapa persen yang menulis dan punya buku sendiri, kebanyakan hanya menyampaikan dari satu buku orang lain. Test mereka dengan menulis tulisan ilmiah atau artikel hasil analisa atau penelitian mereka sendiri, bahkan dalam bahasa Indonesiapun dijamin gelagapan apalagi bila harus in English.

Saya pun tentunya termasuk, bukan karena saya lebih bagus dibanding dosen lain, saya bisa menulis ini, karena memang kenyataannya seperti itu dan system juga kondisinya memang seperti itu. Bahkan di Institut terbaik di negeri inipun begitu banyak kelemahan terjadi, mengingat kata Prof.Sunara “Bila didiamkan terus seperti ini Indonesia tinggal menunggu waktunya saja dan akan jauh ketinggalan dari Malaysia” Atau teringat kata Prof.Johanes dari Manejemen UI, Indonesia bila didiamkan dan tidak ada perbaikan maka akan menjadi Negara buruh saja, manusia nya dianggap sebagai binatang, dan sudah terasa terlihat dari Industri otomotif saja, Indonesia belum bisa menciptakan kendaraan nasional, kita hanya memiliki kijang dari Toyota kijang, panther dari isuzu panther, kita hanya bisa jadi kuda dari Mitsubishi kuda, apa ada yang asli buatan Indonesia? Tidak ada, disini hanya perakitan saja.  Dan lihat saja, penyiksaan, pelecehan TKI di mana-mana, manusia Indonesia sudah dianggap lebih hina dari binatang, apakah ada yang bertindak? Kita hanya dihimbau sebagi bangsa yang pemaaf. Begitu Prof. Johanes katakan dengan berapi-api di salah satu seminar di Bidakara.

I am doing nothing, Cuma bisa menelan kesedihan saja 😦

Bagaimana generasi anak-cucu saya nanti? Akankah ada perubahan? I hope.

Entry filed under: Pendidikan. Tags: , , , .

DoNLoD Lagu atau VideO Hujan Mulu

26 Komentar Add your own

  • 1. rudyhilkya  |  Oktober 21, 2007 pukul 2:19 am

    Kalo sedihnya habis ditelan, pak. Trus dikemanakan hasil telanannya ?🙂

    Kalo sedih yang ditelan sudah banyak dan tak sanggup tertampung lagi, muntahannya saya keluarkan di Blog ini, baru hati saya agak lega, meskipun gak ada perubahan kondisi🙂 Salam kenal mas rudy

    Balas
  • 2. evelyn pratiwi yusuf  |  Oktober 21, 2007 pukul 5:51 am

    Waduh pasti baru liat kemaren Sabtu ya di Metro, kebetulan aku juga liat sih, tapi nggak sampai habis.
    Ini sudah mulai menghitung apakah aku termasuk orang kaya atau sok kaya😉
    well lam kenal ya

    Salam kenal kembali, wah sayang ga nonton sampai habis, terakhir safir senduk membahas fax dari pemirsa yang ingin dianalisa apakah sudah cukup kaya atau belum

    Balas
  • 3. warnetubuntu  |  Oktober 21, 2007 pukul 10:06 am

    setahu saya “kaya” adalah surplus untuk segala aspek kehidupan.. mulai dari uang, kesehatan, kebahagian, sosial dan lain2.. surplus uang tapi defisit kesehatan juga tidak bisa dikatakan “kaya”, walopun memang banyak hal yg terbeli dengan uang, tetapi tidak semua bisa terbeli dengan uang, seperti qoute pada sponsor mastercard “There IS something which money cant buy”🙂

    salam kenal juga🙂

    Rumus yang diatas hanya membatasi “kaya” dari kuantitas harta saja, padahal banyak yang tidak bisa dibeli dengan uang ya🙂 ex. tidur yang lelap, selera makan, kebahagiaan, cinta dan masih banyak lagi

    Balas
  • 4. syafriadi  |  Oktober 21, 2007 pukul 11:02 am

    kaya itu ga bisa cuma dilihat dari sisi materi aja lho😉

    Sepakat mas kucingbelangempat eh… salah mas syafriadi🙂

    Balas
  • 5. benbego  |  Oktober 21, 2007 pukul 3:01 pm

    wah, kebetulan gue juga liat kemaren. seru..
    salam

    Sama dunk selera acaranya ya? salam kenal juga

    Balas
  • 6. Ersis Warmansyah Abbas  |  Oktober 21, 2007 pukul 4:26 pm

    Ha … ha … gaji saya sebagai dosen (Gol IV/Lektor Kepala) pas buat bayar komunikasi (HP, Telp., internet, dan bensisn). Saya kaya semangat saja he he.

    Ah, Mas Ersis merendah ya, segitu banyak side incomenya, hayoooo nggak ngaku?🙂

    Balas
  • 7. aRuL  |  Oktober 21, 2007 pukul 7:17 pm

    wah untung bukan dosen…

    Jangan coba-coba deh Mas Arul, kalau mau kaya milih jadi dosen saja, tidak akan kesampaian di negeri ini, kecuali kalau rajin cari projek sampingan

    Balas
  • 8. santribuntet  |  Oktober 22, 2007 pukul 1:39 am

    Honor Profesor di sana 8 kali lebih besar honor Prof disini belum termasuk fasilitas yang disediakan.

    berharap indonesia maju… ? itu harapan yang mengawang kayanya… entah kapan tercapai

    … banyak sekali daki2 mengotori siklus peredaran uang, barang, makanan, bahkan suplay air apalagi kini peredaaran ideologi pun banyak sekali dakinya… jadi yaaa kaya sendiri2 saja deh menafsirinya.. heheh🙂 *lariiiii*

    ehh mau lariii kemana? daripada lari mending bersihin daki2 yang mengotori negara ini, gimana?

    Balas
  • 9. ilham39  |  Oktober 22, 2007 pukul 2:39 am

    There is always hope no matter how small it is

    Salam kenal…

    kalimat yang bagus untuk saya si pesimis, salam kenal juga mas Ilham

    Balas
  • 10. dshenoersheva  |  Oktober 22, 2007 pukul 3:04 am

    wah rumus nya ok jga

    Lalu termasuk yang mana niy? “curious mode on”

    Balas
  • 11. Edi Psw  |  Oktober 22, 2007 pukul 3:35 am

    Bagus neeh! Ntar coba saya hitung.
    Apakah saya termasuk kaya atau tidak.
    Eh, salam knal ya?
    Tukar link yuuuk!
    Makasih.

    Nah, bagaimana hasilnya Mas Edi?
    salam kenal kembali.
    Tukaran link? Yuuk, seneng banget🙂

    Balas
  • 12. add_  |  Oktober 22, 2007 pukul 4:24 am

    itulah indonesia *sambil nyanyi tentunya*

    aku berjanji padamu, menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia

    Balas
  • 13. vizon  |  Oktober 22, 2007 pukul 4:49 am

    wah… kayaknya saya masuk “golongan” orang yang lagi dibicarakan, “dosen yg kepengen kaya, tapi gak bisa”…🙂
    penghasilan rendah, terkadang membuat kita kehilangan spirit untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak bangsa ini. tapi, saya yakin bahwa masih ada segelintir dosen yang memiliki “kekayaan hati” untuk membagi ilmunya tanpa harus dibayar mahal…

    seneng ada temen senasib, dosen dimana mas? salam kenal

    Balas
  • 14. atmo4th  |  Oktober 22, 2007 pukul 5:46 am

    jadi inget pernah ada yang ngomong :
    “Waduh, kalau liat atas terus kan bisa pegel”😀

    Untunglah saya hanya sesekali melihat keatas, sekali saja melihat keatas pegel dan banyak sakit hatinya🙂 kacian deh aku

    Balas
  • 15. bumisegoro  |  Oktober 22, 2007 pukul 6:15 am

    padahal itu dosen loh ya, gimana dengan guru sd ya ???

    Nah itu dia mas, guru SD bisa jauh lebih kaya dari dosen, tapi yang punya SDnya deng,🙂

    Balas
  • 16. Ferry ZK  |  Oktober 25, 2007 pukul 7:47 am

    wahhh sayah mah gak kepengan kaya, sayah cumah mau kalau sayah mau beli apah ajah bisah, gicuh ajah yah buh….

    Balas
  • […] yang kaya. Ini hanya opini sesa(a)t tapi dijamin tidak menyesatkan. Memang ada rumus kaya ala Lenijuwita. Ada reaksi dari keterpurukan dan keprihatinan bangsa ini dalam menapaki perjalanan panjang sejarah […]

    Balas
  • 18. Kurt  |  Oktober 28, 2007 pukul 12:21 pm

    Tulisan tengan :”semakin kaya semakin miskin” masih dalam proses. Soale ada banyak sumber (*halah*) yang saya belum ketemu. heheh🙂 tapi inspirasi dari sini bagus sekali….🙂

    Balas
  • 19. Farhan  |  Oktober 29, 2007 pukul 6:02 am

    salam kenal. pak safir moe tanya nih.. gimana caranya bisa kaya dimasa depan dengan gaji yg minim.. misalkan 600 ribu perbulan, n masih single.. di tunggu jawabannnya segera.

    Balas
  • 20. Ersis Warmansyah Abbas  |  Oktober 30, 2007 pukul 2:13 am

    Tulisan barunya dong

    Balas
  • 21. benbego  |  Oktober 30, 2007 pukul 6:46 am

    konfirmasi aja nih pak, linknya udah masuk blogrollku. Tengkiu!

    t Qyu juga mas Benz, link nya juga udah masuk blogroll🙂 makasih juga untuk jawabannya di Donlod lagu ma video

    Balas
  • 22. kurtubi  |  Oktober 31, 2007 pukul 12:06 pm

    Rumus kaya versi saya sudah diupdate tapi yaa itu apa adanya, gak diselipi banyak study kasus …

    Balas
  • 23. Abu Salman  |  November 6, 2007 pukul 9:00 am

    saya belum menghitung tapi dah ngerasa kayaknya bukan orang kaya deh, pinginnya kaya hati aja tapi sulit juga ya, wuih jadi orang kaya susah amat he..he.

    ada yang bilang, jangan merasa khawatir bila tidak punya apa-apa, tetapi khawatirlah bila belum memberi apapun

    Balas
  • 24. miko  |  November 29, 2007 pukul 3:34 pm

    aduh gimana ya… kalo dosen punya side job sih bisa tergolong aman dari segi finansial
    tapi, gimana ya…..
    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    kadang ada pusing, kadang ada leganya jadi dosen
    kekekkkekeke

    salam buat semua profesi dosen

    Ayyoo pusingnya dimana? leganya dimana? dan dosen dimana ni Pak Miko? boleh tau dunk

    Balas
  • […] Asili di sini Like this:SukaBe the first to like […]

    Balas
  • 26. dian  |  April 9, 2016 pukul 10:14 am

    Maaf sebelumnya, tidak semua dosen swasta seperti yg disebutkkan di atas.
    Saat kenaikan pangkat juga ada yg idealis tetap menggunakan publikasi dari hasil penelitiannya. Bukan comot karya mhs. Ada juga kok dosen swasta yang memang niat dari awal adalah utk menjadi pengajar. Saya pribadi bercita cita pengen jadi professor sejak kecil. Dosen swasta juga dituntut kualitasnya. Kita juga buat BKD tiap semester. Ada tim Sarian Penjaminan Mutu di kampus. Kualitas dosen juga berpengaruh ke borang akreditasi kan.. Di standar 3 dan 7 terutama.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: