Harta Karun untuk Semua oleh Dewi Lestari

September 27, 2007 at 4:20 pm 4 komentar

Mari kita lebih peduli pada nasib Bumi kita !
Save the Nature, Save the Earth !!!

Harta Karun untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu
buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff –
The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86
halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan
ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-
barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan
waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila
mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa
penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang
hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah,
ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi
fosil.

Sukar membayangkan apa jadi nya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat,
tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion.
Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir
rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang
kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk
mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita
pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca
setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang
kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam
kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat
tubuh kita sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk
mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi
satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari
dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24
kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah,
memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh.
Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang
dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada
berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai
reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya
hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena
tidak mau pusing.

Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya
dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan
membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari
hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung
jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai,
Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada
lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi
kecukupan penduduk satu kota ? Tapi kenapa barang-barang ini tidak
ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru
yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki
hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie
instan, dan ratusan merk sabun:
haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh
melebihi apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju
dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menj adi
tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan
beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu,
seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang
ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi.
Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan
pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah
kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah
kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita.
Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan
memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menj adi
sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol
Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap
langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah
pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya
bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan
mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan
akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet
atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.
Bagaimana dengan fashion?
Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di
muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca:
membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa
membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki
tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada
yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan
bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma
sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku,
pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak
disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang
berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika
dipertahankan hanya menj adi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta
karun ini lantas harus dic arik an lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan
bazaar.Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut
berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di
antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung,
barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli
bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari
pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak
saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk
disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun
yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling
laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan
penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap
sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara
kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga
disumbangkan ..
Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen
pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian,
dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya… dengan
diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam
koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengenda lia n diri dari awal
bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar
dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita.
Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu
cara pembekalan yang baik.
Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong
kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan
hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang
menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita
menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, ” Aduh , Wi . Kamu bikin
hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah.
Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya.
Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih
pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita
lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan
manusia yang dijadi kan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu
konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi
kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang
sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.

Entry filed under: Inspiring. Tags: .

BERBUKA DENGAN YANG MANIS-MANIS ? Extravaganza Trans, garing ya?

4 Komentar Add your own

  • 1. peyek  |  September 28, 2007 pukul 4:56 pm

    Ehm… so natural!

    Balas
  • 2. raiguru  |  Oktober 2, 2007 pukul 9:20 am

    waah,… baru ngeh gue kalo gue hidup lebih banyak ngerusak daripada memelihara apalagi memperbaiki,…..
    gue bukan orang kaya motor aja ga punya, hutang seabreg,.. tapi terus terang tulisan ini membua gue jadi lebih bersyukur dengan apa yang gue miliki sekarang,..

    Balas
  • 3. raffaell  |  November 9, 2007 pukul 12:45 am

    Keren…. Inspiratif

    Dee, gitu Lho

    Balas
  • 4. suqthi  |  November 13, 2007 pukul 10:48 pm

    keren bgd,,,
    pola pikir yg mengalir bagai air,,,
    ane salut bgd dah,,,,
    mudah2an bisa ngingetin orang laen yg blum ngerti,,,

    Sang Dewi gitu bang, cerdas, cantik, pintar dan peduli lingkungan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: