Bergurulah kepada Rektor Baru UI

September 9, 2007 at 4:44 pm 1 komentar

Ini ada tulisan dari milis tetangga, sedikit harapanku sih, bila memang beliau Rektor yang hebat, birokrasi, administrasinya agar dibuat lebih profesional, dan denda uang kuliahnya itu lhoo, ampun, masa telat beberapa hari saja denda sampai 50% dari uang kuliah, uang kuliah 6 juta, denda nya bisa sampai 3 juta, halahh, apa mau disebut jadi universitas denda. Moga Rektor UI yang baru merubah kebijakan itu.

Terus admin ma TU nya yang tua-tua itu ganti aja deh, sama yang muda-muda, masalahnya mereka masih konvensional, tdk fleksibel dan aduuh feodalnya itu masih sangat kentara. Sudah ngga jaman lagi deh mahasiswa harus nyembah2 birokrasi. Kalau mereka salah ya harus ngaku salah bahkan harusnya minta maaf, eh mereka yang salah mahasiswa dibuat repot, masa untuk mengantar surat saja ke dir.keuangan mahasiswa yang harus datang, walaupun karena kesalahan mereka. Udah gitu bikin satu surat saja bisa berjam-jam terus apa gunanya ada komputer, ada printer yang bisa mempercepat pekerjaan.

Bergurulah kepada Rektor Baru UI
Oleh S. SAHALA TUA SARAGIH
PEMIMPIN perguruan tinggi (PT) yang tergolong sangat
pintar di negeri ini pastilah banyak, baik yang
berstatus rektor, ketua, direktur, maupun yang
berstatus dekan, ketua jurusan atau apa pun
sebutannya. Akan tetapi, pemimpin PT yang tergolong
sangat cerdas (dalam arti luas) pastilah langka
sekali. Di antara yang sangat langka itu tersebutlah
Rektor Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat,
yang baru, Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri.

Panggilan akrabnya Unang. Usianya masih sangat belia.
Unang menjadi pemimpin (rektor) termuda universitas
tertua tersebut. Guru besar sosiologi di Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI itu lahir di Desa
Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 11 Maret
1963. Selama ini, jabatan Rektor UI didominasi dosen
Fakultas Kedokteran (FK). Unang merupakan orang ketiga
yang bukan dosen FK yang berhasil meraih kedudukan
yang sangat penting itu.

Memangnya apa sih kehebatan Unang? Secerdas apakah
dia? Mengapa kita menganjurkan para pemimpin PT di
negeri ini untuk berguru kepadanya? Apakah bahan
kampanyenya yang sangat memukau Majelis Wali Amanah
(MWA) UI dapat dijadikan jaminan bahwa ia pasti
berhasil memimpim UI, sehingga para pemimpin PT kita
harus atau patut berguru kepadanya?

Kita yakin, mayoritas (25 dari 30 orang) anggota MWA
UI memilihnya jadi Rektor UI untuk periode 2007-2012,
pastilah bukan karena kepiawaiannya “berjualan kecap
Nomor 1” seperti yang biasa dilakukan para pemimpin
partai politik pada masa kampanye pemilihan umum.
Niscayalah, para anggota MWA UI jauh lebih percaya
kepada apa yang telah diperbuatnya secara konkret
selama memimpin FISIP UI ketimbang janji-janjinya
sewaktu “kampanye” calon rektor.

Unang jadi Dekan FISIP UI periode 2002-2006. Karena
dianggap sukses, lalu dipilih lagi untuk masa bakti
2006-2010. Akan tetapi, baru lebih setahun memegang
jabatan tersebut (periode kedua) ayah tiga anak itu
sudah “naik kelas”, menjadi rektor. Sungguh hebat. Apa
sih yang telah diperbuatnya selama lima tahun memimpin
FISIP UI?

Yang pertama dan terutama pastilah perbaikan
pendapatan atau kesejahteraan para dosen. Selain tetap
menerima gaji sebagai pegawai negeri sipil (PNS), tiap
dosen tetap FISIP UI menerima gaji (tambahan)
rata-rata Rp 9 (sembilan) juta per bulan (Pikiran
Rakyat, 23-7-2007).

Sang dekan tidak memperkaya para pejabat saja. Kalau
mau tahu caranya, dari mana sumber uang tersebut,
tanyakan saja langsung kepada yang bersangkutan! Yang
pasti, meskipun sosiolog, dia wiraswastawan ulung. Ia
pintar menjual potensi yang dimiliki FISIP UI. Ia
pintar menjual jasa, termasuk jasa parkir kendaraan
dan berbagai unit usaha lainnya.

Kalau satu fakultas saja pun ternyata sudah mampu
menghasilkan banyak uang, apalagi kalau semua
fakultas, terlebih lagi bila berbagai fakultas bersatu
atau bersinergi. Satu hal penting yang dan perlu kita
catat, pendapatan utama fakultas yang dipimpinnya
pastilah bukan “berjualan kursi” kepada para mahasiswa
baru dengan harga yang sangat mahal. Ia juga tidak
“mengobral” fakultasnya, misalnya, menerima banyak
sekali mahasiswa melalui jalur khusus atau nir-SPMB,
sehingga diraup uang dalam jumlah yang sangat besar.

Mungkin Unang berpikir, kalau cuma “berjualan kursi”
sih siapa pun bisa jadi dekan atau rektor. Doktor
sosiologi (lulusan) Fakultas Sosiologi Universitas
Bielefeld Jerman itu tahu betul, kunci utama dalam
memajukan kualitas lulusan PT, serta mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), adalah para
dosen tetap, dosen profesional, bukan dosen luar
biasa, apalagi dosen “biasa di luar”.

Kita jangan bermimpi mutu para sarjana tinggi, bila
para dosen masih tetap melarat. Jangan berharap para
dosen sempat mengembangkan iptek serta meningkatkan
kualitas lulusan PT, bila mereka masih sangat sibuk
“mengobjek” ke sana ke mari sekadar memenuhi berbagai
kebutuhan pokok mereka sebagai dosen.

Siapa pun tahu, gaji dosen yang berstatus pegawai
negeri sipil (PNS) pastilah jauh dari memadai. Tak
usah dibandingkan dengan gaji mereka yang mengaku
“wakil rakyat” (baca: DPR). Tiap bulan anggota DPR
menerima kurang-lebih Rp 50 juta. Tak perlu pula kita
membandingkannya dengan gaji para “wakil rakyat” di
daerah (DPRD) tingkat provinsi atau kota/kabupaten
yang jumlahnya kurang-lebih Rp 15 juta/bulan. Padahal,
sebagian anggota DPR/DPRD cuma lulusan sekolah
lanjutan tingkat atas (semoga tak ada yang berijazah
palsu atau “asli tapi palsu”).

Berapa gaji dosen berjabatan guru besar, bergelar
doktor, berstatus PNS, dan sudah bekerja 25 tahun di
perguruan tinggi negeri (PTN)? Jumlahnya Rp 3 (tiga)
juta saja per bulan. Sungguh tak manusiawi dan
rasional. Tentu tak ada orang yang tega berkata dengan
sinis, siapa suruh jadi dosen? Siapa suruh jadi PNS?

Ambisi besar

Dalam soal peringkat PT di tingkat internasional,
Unang rupanya memiliki obsesi dan ambisi besar. Paling
lambat tahun 2012 UI sudah masuk lima besar di tingkat
Asia Tenggara, sepuluh besar di tingkat Asia, dan
seratus besar di tingkat dunia atau sejagat. Beberapa
di antara 3.000 dosen UI diharapkan pula mampu
berhasil meraih hadiah Nobel di bidang fisika,
ekonomi, sastra, dan lain-lain (Republika, 29/7).

Obsesi besar rektor ini hanya mungkin terwujud bila
semua dosen UI sudah hidup sejahtera, sehingga mereka
dapat bekerja dengan benar-benar profesional. Mereka
tak perlu lagi sibuk terus mencari objekan kelas kakap
di departemen-departemen, perusahaan-perusahaan besar
dan kaya.

Ketika memimpin FISIP UI, Unang juga merangsang para
dosen untuk menulis dan menerbitkan buku teks (ajar).
Insentif atau perangsangnya cukup besar, kurang-lebih
Rp 10 juta per judul buku. Para dosen yang menulis
artikel opini di media cetak dan jurnal-jurnal ilmiah
juga diberi honorarium.

Keberhasilannya menghijaukan kampus FISIP UI, kini
dilanjutkannya di semua fakultas di lingkungan UI yang
berdomisili di Depok. Program awalnya sebagai Rektor
dalam 100 hari pertama (Agustus-November 2007) adalah
penghijauan kampus dan program naik sepeda. Semua
dosen dan mahasiswa wajib naik sepeda dari tempat
parkir kendaraan/terminal kendaraan umum ke gedung
kuliah masing-masing.

Kampus UI pun akan dijadikan tempat belajar biologi
(tumbuh-tumbuhan) yang terbuka untuk umum. Selain itu,
kampus UI juga akan dijadikan objek wisata lingkungan
bagi umum (Kompas, 21/8). Obsesi besar lainnya adalah
mengembalikan UI menjadi kampus seluruh rakyat
Indonesia. Sudah terlalu lama UI (juga PTN-PTN besar
lainnya di Pulau Jawa) didominasi para lulusan SMA
Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan
kota-kota besar lain (terutama di Pulau Jawa). Hampir
semuanya mereka berasal dari keluarga kelas
sosial-ekonomi menengah dan atas.

Dahulu (1970-an dan sebelumnya) UI dan PTN-PTN
unggulan lainnya di Pulau Jawa merupakan tempat
belajar bagi lulusan SMA dari hampir semua
Kabupaten/Kotamadya di Tanah Air, termasuk yang
berasal dari keluarga kelas sosial-ekonomi bawah
(miskin) dari desa-desa atau daerah-daerah pedalaman.
Di bawah kepemimpinannya, UI akan kembali menjadi
tempat menimba ilmu bagi siapa pun, termasuk anak-anak
muda dari daerah pedalaman, asal memiliki potensi
akademik yang memadai. Orang-orang miskin boleh kuliah
gratis dan memeroleh biaya hidup pula dari UI, atau
mereka boleh kuliah sambil bekerja (dengan upah yang
layak) di unit-unit usaha milik UI, atau mereka
memperoleh kredit (mungkin tanpa bunga) yang baru
dicicil lima tahun setelah tamat.

Para siswa SMA yang pernah berhasil meraih medali di
olimpiade ilmu pengetahuan di tingkat internasional,
seperti olimpiade matematika, fisika, komputer, akan
ditarik menjadi mahasiswa UI tanpa seleksi. Mereka
juga akan diberi beasiswa dalam jumlah yang memadai.
Mereka diharapkan ikut mendongkrak peringkat UI di
tingkat Asia Tenggara, Asia, dan sejagat. Intinya,
para pemimpin PT di negeri ini dengan rendah hati
memang patut berguru kepada Rektor baru UI.

Kita berharap, tiap pemimpin PT di semua tingkatan
harus berambisi besar untuk memajukan
PT/fakultas/jurusan yang dipimpinnya. Pemimpin PT
haruslah berjiwa dan bersikap wiraswasta, jujur,
bersih, disiplin dalam segala hal, anti-KKN (korupsi,
kolusi, dan nepotisme), mengutamakan/mendahulukan
kesejahteraan dosen (kemudian kesejahteraan karyawan
dan mahasiswa), berpihak kepada kaum miskin yang
berpotensi menimba ilmu di PT.

Selain itu, dia berambisi besar untuk menghasilkan
lulusan yang bermutu tinggi (jauh lebih mengutamakan
kualitas daripada kuantitas lulusan) serta
mengembangkan iptek, memiliki kemampuan besar di
bidang kepemimpinan dan manajemen, mampu berkomunikasi
dengan baik kepada semua lapisan warga akademik dan
para pemangku kepentingan PT di luar kampus. Kita
percaya benar, hanya pemimpin yang mau terus
bergurulah yang mampu membawa PT yang dipimpinnya ke
jenjang terhormat.***

Penulis, dosen Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad.


Milis Internal Elektro-77 ITB Bandung – Indonesia

Entry filed under: Pendidikan. Tags: .

RUU BHP, Skenario Neoliberalisme Ada yang beda, Ramadhan 2007 ini

1 Komentar Add your own

  • 1. adult social network adult sharing adult social network  |  Maret 17, 2013 pukul 12:30 am

    you’re in reality a good webmaster. The web site loading speed is incredible. It seems that you are doing any distinctive trick. Moreover, The contents are masterwork. you’ve performed a great
    activity on this subject!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: