Pendidikan Humanistik

April 21, 2007 at 4:31 pm Tinggalkan komentar

Oleh Imam Setyawan
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/19/opini/3464078.htm

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalamnya, pembelajaran merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan, dan disempurnakan.

Artinya, pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humannes).

Belum menjadi manusia

Kematian madya praja IPDN, Cliff Muntu, mengukuhkan “kebodohan” lembaga pendidikan itu. Sungguh menyedihkan jika kekerasan dan tindak kriminal dianggap sebagai metode yang harus dipakai untuk melahirkan pamong praja andal. Mengerikan, saat kekerasan dan kriminalitas sudah menjadi wujud sistem pendidikan sendiri. Akibatnya, para praja tidak berani bicara jujur. Di depan pemimpin negeri pun, mereka takut membuka nurani meski diketuk tangisan pilu orangtua Cliff Muntu.

Proses pendidikan seharusnya memberi tempat kepada inside- out, proses pemberdayaan diri, berdasar paradigma, karakter, dan motif sendiri. Dengan self awareness dan self insight, peserta didik dapat
“terhubung” dengan dirinya dan mempunyai pemahaman lebih tentang dirinya.

Di satu sisi, belajar adalah memahami bagaimana individu berbeda dengan yang lain (individual differences). Di sisi lain, memahami bagaimana menjadi manusia seperti manusia lain (persamaan dalam
specieshood or humanness). Sistem pengasuhan di IPDN menafikan semua. Di IPDN, yang disebut manusia adalah dosen, pengasuh, dan praja senior. Muda praja dan madya praja belum berhak menjadi manusia. Mereka dianggap tidak punya motivasi dan hak atas diri sendiri.

Merujuk teori Abraham Maslow tentang hierarki motivasi, kebutuhan atau motivasi merupakan penggerak utama perilaku individu. Motivasi menggerakkan individu sebagai keseluruhan yang padu dan teratur.

Sistem dan budaya kekerasan di IPDN senyatanya telah mengikis kebutuhan akan cinta kasih antarsesama. Tanpa cinta kasih, pertumbuhan dan perkembangan kemampuan praja menuju aktualisasi diri akan terhambat. Manifestasi yang salah kaprah akan kebutuhan kekuasaan, membuat arogansi dan penyiksaan terhadap orang lain sebagai bentuk aktualisasi diri yang membanggakan.

Aktualisasi diri

Tujuan pendidikan adalah aktualisasi diri yang merupakan pemanfaatan bakat, kapasitas, dan potensi sehingga dapat memenuhi diri dan melakukan yang terbaik. Tetapi di IPDN, yang terjadi adalah kriterium negatif, ketiadaan, dan aneka kecenderungan ke arah gangguan psikologis.

Berbagai kondisi yang merupakan prasyarat pemuasan kebutuhan dasar dalam pendidikan—kemerdekaan untuk berbicara, kebebasan yang bertanggung jawab, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan diri, keadilan, kejujuran, kewajaran, dan ketertiban—telah hilang.

Memang, manusia membutuhkan tantangan sebagai prakondisi tambahan dalam lingkungan eksternal karena secara bersamaan dan paradoksikal, dalam diri manusia ada kecenderungan ke arah kemandekan dan ke arah perkembangan atau aktivitas. Tetapi, kekerasan dan kriminalitas jelas jauh dari kriteria tantangan karena menafikan eksistensi diri sebagai manusia.

Sistem dan proses pendidikan humanistik semestinya menjadi pertimbangan bagi Ryaas Rasyid dan tim, untuk mengevaluasi bahkan mungkin mengganti sistem pendidikan di IPDN. Sistem paling penting
untuk dievaluasi adalah kurikulum, struktur, dan dinamika pendidikan IPDN.

Agenda utama yang harus dikerjakan adalah menjadikan penggodokan kemampuan dan keterampilan afektif, selaras dengan kognitif, sebagai media pemberdayaan berbagai praja dalam mengatasi kemelut kemanusiaan mereka sendiri.

Kurikulum berisi pembelajaran yang humanistik harus menyediakan ruang bagi eksplorasi masalah kemanusiaan, membantu praja menghadapi masalah kehidupan sehari-hari. Karena itu, perlu dikembangkan pembelajaran tentang proses dan keahlian yang dibutuhkan atau mungkin akan dibutuhkan guna menghadapi aneka masalah identitas, kekuasaan, dan keterhubungan. Bagaimana menyelaraskan need for achievement, need for affiliation, dan need for power dalam pengembangan human relations.

Berbagai keterampilan itu terkait kebutuhan pengembangan positive social environment di lingkungan pendidikan IPDN.

Atmosfer penindasan harus dibuang. Pengasuhan bertingkat dihapus seiring perombakan peran dosen kembali ke khitahnya dalam student centered learning. Bukan sebagai diktator, tetapi fasilitator yang
mendukung, memahami, dan menjalankan proses belajar secara resiprokal.

Dinamika pendidikan juga diarahkan untuk melatih praja mampu memilih dan mengendalikan pengambilan keputusan, baik dalam mencapai tujuan belajar secara khusus maupun aneka aktivitas sehari-hari.

Pelibatan praja sebagai individu tidak hanya dalam pikiran, tetapi dengan mengintegrasikan keterampilan dalam disiplin keilmuan dan keterampilan hidup yang dibutuhkan untuk menjadi individu efektif.
Dengan demikian, praja dengan kedewasaannya diarahkan untuk melakukan evaluasi diri dalam menilai kemajuan belajar, menuju tujuan yang telah ditetapkan sendiri. Sehingga tidak ada lagi praja dari tingkat mana pun yang memiliki lisence to kill dalam menegakkan evaluasi bagi adik-adik kelasnya.

Entry filed under: Pendidikan. Tags: .

Penyumbat Saluran Rezeki Concerned only with money

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: