Perlawanan Sastra Taufiq Ismail di IPB

Februari 19, 2007 at 9:10 am 12 komentar

Jan 9, ’07 8:19 AM

Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan dosen-dosen IPB. Makalah yang
beliau baca sama dengan pidato Taman Ismail Marzuki yaitu : ‘Budaya Malu
dikikis Gerakan Syahwat Merdeka’. Di penghujung pidatonya tadi, beliau
mengusap airmatanya, sedih melihat kondisi yang terjadi. Saya lampirkan
tulisan beliau yang dahsyat menyentak kita semua:

Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia , naik ke
daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang
susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi
meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan
Demokra si Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia . Hawa
ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi
tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus
menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya
partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP
(izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya
pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai
sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan
krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal
sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan
menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998
naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah
gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi
resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui
jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan
yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras
suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam
perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.
Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih
besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada
perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu
menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor
telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue
pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa
dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks
siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria
paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial —- ditayangkan pada jam
prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi
sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan
keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru
tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya
pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata
170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus
ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer,
anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses
tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco , Timbuktu ,
Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog
Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan
“gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak
tangan.”

Di Singapura , Malaysia , Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk
terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan
hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½
sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria.
Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya
mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak
Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu,
ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada
penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu,
bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan
Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit
luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya,
misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000.
Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar
ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua
dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam
salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada
Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang
dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru.
Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur
dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya
ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta – 20 juta keping setahun.
Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan
lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit,
orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6
posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa
risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid
laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka,
lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama.
Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD , kelas lima . Tak diceritakan
apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek
dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi,
mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di
depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa
batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman
keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan
Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada
derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai
pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin
57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9
menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun
(1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun
rupiah.

Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor
arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang
sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam
susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara
seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan.
Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya,
seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam
ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat
permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat
suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian
bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di
atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis.
Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD,
satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu
pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka
memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru
dan ingin mencobakannya. ‘ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian,
bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka
aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang
calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu
atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa
destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan
pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi
pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra
menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini.
Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnaka n adalah
perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan
pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam
usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno
di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang
lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di
Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum,
karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka
karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti
menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu
menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan
sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong
kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang
dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu dianggap
pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya.
Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya
itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya
ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu
kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak,
kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah
gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung,
tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan
karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa
malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik,
maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai
karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila
orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut
dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini
luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang
taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di
Indonesia . Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca
Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet,
sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno
internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk
keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk
eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar
ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah
anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis- syahwat-merdeka seperti
Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX
Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indon esia,
saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti
model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik,
isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang,
tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam
masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu
kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10
saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah
menduga-memperkirak an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang
membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen
yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi
kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah
yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan
terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan
memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil
jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau
susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja,
pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa,
umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin
mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran
tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini
(peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran),
mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau
komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit
kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar
Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak
kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis
cerpen-puisi- novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya
sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak
pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya.
Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati
VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah
cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau
ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang
disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan
kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,
beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan
produsen-pengedar- pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan)
sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat
konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000
sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek.
Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton
sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen
alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting
pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh- apa-saja- genjot, yang
dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini,
berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis
yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca.
Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang
Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang
laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya
kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita
mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap
yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu
berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan
atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang
lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah.
Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai.
Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan
penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok
penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin
seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan,
dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam
karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh
sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak
merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi
mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan
penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan
maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga
untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam
itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara
berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat
kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan
kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah
selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang
mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra
selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang
nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati
menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus
psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus
dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan
naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan
kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan
Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif
sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan
bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.
Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program,
Universitas Iowa , di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan
perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia .
Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan
pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin,
di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain
itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria
Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak
peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar
seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun
perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York , seorang laki-laki korban
HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka
manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya
kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun
1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam .
Sebuah orkestra simfoni di New York , anggota-anggotanya bergiliran mati
saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan
bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa
bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya
sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like
with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan
tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan
mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma
satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan
koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat
permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan.
Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan
dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang
dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan
semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu
meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya
malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani
mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin
orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki
hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka
adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan
narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan
aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***

Entry filed under: Inspiring. Tags: .

Bengong, Bingung Kuliah Tamu DR.I Wayan Suweca

12 Komentar Add your own

  • 1. upilnyempil  |  Maret 23, 2007 pukul 3:13 am

    bagus Bu blogna. kutgw!
    wah Pak Taufik memang hebat euy, penyair yang satu ini emang selalu perhatian dgn kondisi bangsa. ayo bangsa indonesia, tetap semangat !!!

    T qyu lho pil yang nyempil

    Balas
  • 2. lussigagas  |  Maret 28, 2007 pukul 11:04 am

    300 is a great movie full of visual effects and graphics which made it different and much better.
    Acting was great, director did a wonderful job and chose great actors, full of action, and it is based on a true story.

    Balas
  • 3. iit  |  Juni 26, 2007 pukul 7:22 pm

    saya sedang membahas kelanjutan dari pidato budaya ini di sebuah milis, karena setelah pidato budaya ini, kemudian muncul tanggapan dari salah seorang sastrawan muda yang merasa tersinggung dengan pidato ini. saya kutip isi pidatonya. thanks!
    salam kenal…

    Dear Iit, milisnya apa ya? penasaran niy, sastrawan muda yang tersinggung tu sapa dan kenapa bisa sampe tersinggung, kesindir kali ya?🙂

    Balas
  • 4. info@esmafix.ee  |  September 4, 2007 pukul 6:28 am

    87 cherokee jeep 87 cherokee jeep

    Balas
  • 5. Knigomiurrerm  |  September 26, 2007 pukul 6:55 am

    Dear Sir, madam. Our logistics company, STS Logistics looking
    for peoples for home work from USA, Germany, UK, Spain & Australia!
    We are searching for active workers, male/female from 18 years old.
    We are ready to offer you an interesting job and partnership.
    Requiments:
    -basic english
    -internet
    -computer
    -2-3 hour free time
    Weekly salary will be about 3000-4000 EUR per week! And this is real with
    us.
    Regards,
    John Campbell

    For more info send e-mail: job@onlinests.org
    You will have all information!

    Balas
  • 6. Stasigragov  |  September 27, 2007 pukul 7:53 pm

    Hello, nice site keep up good job!!!
    http://accomodations-ragovij.cn/

    Balas
  • 7. markofando  |  Oktober 2, 2007 pukul 3:13 am

    Want to start your private office arms race right now?

    I just got my own USB rocket launcher🙂 Awsome thing.

    Plug into your computer and you got a remote controlled office missile launcher with 360 degrees horizontal and 45 degree vertival rotation with a range of more than 6 meters – which gives you a coverage of 113 square meters round your workplace.
    You can get the gadget here: http://tinyurl.com/2qul3c

    Check out the video they have on the page.

    Cheers

    Marko Fando

    Balas
  • 8. squeedeenduro  |  Oktober 22, 2007 pukul 6:12 pm

    Hi everyone,

    I’m a noob here. And it seems like a sweet forum.

    I just wanted to give a nice hello to all of you here.
    🙂

    -Dana

    Balas
  • 9. btatscool  |  Maret 15, 2008 pukul 2:52 pm

    Where could I find any Finasteride ?
    please tell me

    Balas
  • 10. Nuttotrusisee  |  Desember 1, 2008 pukul 11:02 pm

    I am here at a forum newcomer. Until I read and deal with the forum.
    Let’s learn!

    Balas
  • 11. eryhona  |  Juni 23, 2009 pukul 10:07 am

    online casino cash out silverstar casino restaurants online casino roulette scam .new years eve at motor city casino security casino jobs site grandvictoria-elgin.com grand victoria casino tuscany in monte casino .spirit mountain casino ron white venetian casino stock symbol .seneca casino jobs barona hotel and casino little big horn casino mtr casino .take us minimum age casino .which .or .about Here jason mraz casino nyny casino Is the What is golden crown casino can dee casino tours tahoe ski resorts casino Get info on us casino paypal now too was sheraton caguas real hotel x26 casino minted casino neither The large casino party planner was m y casino royale dean windass casino crown casino melbourne australia so so wm casino red hawk casino grand opening sac n fox casino shawnee online casino odds What reno tahoe casino express Before
    atlantic city casino strip schools in casino .The best Other stanley casino poker can tradewinds casino image as red rock casino richmond bc .because .about .that was you are entering into a tulalip casino resort spa seneca niagara casino u0026 hotel niagara falls And This was party online casino too tusk casino empangeni santa fe casino movie times las vegas casino hotels strip sofitel cairns reef casino Buy pictures casino whether or no is focused on .

    Balas
  • 12. Paul from Poland  |  Oktober 14, 2010 pukul 8:03 am

    I merely wished to officially say “Hi there” to everyone here. In my opinion , that this appears like an unusually appealing place to be online.

    I cannot wait to begin. Do you have any sort of guidance for someone in the beginning stages? Any certain section that you would advise more versus others to begin?

    I want to to share with you a quote that i have often found to be tremendously motivational in order to start formal introductions:

    [quote]Never believe in mirrors or newspapers. ~Tom Stoppard[/quote]
    Greetings,
    Paul

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

%d blogger menyukai ini: