Mencongak dengan Metris

Desember 13, 2006 at 2:46 pm 4 komentar

Seorang dosen menemukan metode aritmatika baru yang lebih mudah dan
cepat. Mengatasi kelemahan Sempoa.

DUA jagoan matematika itu berdiri berjejer di depan papan tulis.
Lawan mereka terpampang di depan mata masing-masing: dua buah soal
perkalian kuadrat. Mereka harus adu cepat menyelesaikannya dengan
metode perhitungan berbeda.

Dalam dua menit, pemenangnya tampak. Gung Kinaptyan, juara kelas VI
Sekolah Dasar Regina Pacis, Bogor, tersenyum sambil mengibaskan sisa
kapur di tangannya. Teman sekelasnya, Samuel Wirajaya, pemenang
kompetisi matematika terbuka tingkat SD se-Jabodetabek, masih
berkutat menyelesaikan soal.

Kamis pekan lalu, guru mereka, Fransiska Ephi Sutisna, ingin
membuktikan bahwa ada cara lain untuk menghitung perkalian selain
cara tradisional, yaitu dengan mengalikan dari atas ke bawah, lalu
menjumlahkannya, yang sudah puluhan tahun diajarkan di sekolah.
Itulah cara yang dipakai Gung, dengan mengurutkan secara mendatar
dari kiri ke kanan.

Ternyata, kata Ephi, “Metode yang dipakai Gung memang lebih cepat.”
Siswa-siswi SD Regina Pacis menyebut metode itu Metris alias Metode
Horisontal. Sudah setahun terakhir Ephi mengajarkan metode mencongak
dari kiri ke kanan seperti itu kepada murid-muridnya. Metode baru
itu ia pelajari saat kuliah di Fakultas Ilmu Keguruan, Universitas
Katolik Atma Jaya, Jakarta, tahun lalu. Lantaran ia menganggap
metode ini lebih cepat dan mudah dipahami, ia melakukan uji coba
pada murid-muridnya.

Metris awalnya digagas oleh Stephanus Ivan Goenawan, 32 tahun, dosen
Fakultas Teknik Mesin, Unika Atma Jaya, Jakarta. Ivan tergerak
menyusun Metris karena melihat keterbatasan metode lama. “Metode itu
hanya mengembangkan kemampuan analisis yang lebih meletakkan
landasan kemampuan numeris dan logika pada siswa,” ujarnya. Alhasil,
proses pengajaran dengan metode vertikal hanya mengembangkan kerja
otak kiri saja. Sedangkan Metris bisa berfungsi untuk membentuk
mental aritmatika yang merangsang kreativitas.

“Kedua metode sebenarnya saling bersinergi kalau diterapkan,” kata
Ivan. Dengan menggunakan Metris, para siswa tak hanya mempunyai
kemampuan numeris dan logika, tapi juga memiliki kepercayaan diri
dan daya kreativitas tinggi.

Metode yang amat membantu siswa ini adalah buah kegemaran Ivan yang
senang bereksperimen menyelesaikan soal-soal aritmatika sejak di
bangku SMP Bruderan, Purworejo, Jawa Tengah. Ketika itu ia kerap
mencari jalan sendiri karena tak pernah puas dengan cara gurunya
menjawab soal. Dalam pencarian, ia menemukan banyaknya keteraturan
angka dalam setiap soal yang diberikan gurunya. “Sejak itu saya
mulai menggunakan segitiga paskal dan notasi pagar, sebagai cara
menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Ketertarikan pada aritmatika pula yang membuat Ivan memilih kuliah
di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah
Mada. Enam tahun lalu, Ivan mulai merumuskan metode arimatika
horizontal secara sistematis. Tonggaknya adalah artikelnya yang
diterbitkan di jurnal internal Unika Atma Jaya. Tulisan itu menarik
perhatian sejumlah koleganya di Jurusan Matematika FKIP universitas
tersebut. Ia kemudian diundang untuk berbicara dan mendiskusikan
metode itu.

Metode yang masih bersifat teoretis itu sempat terbengkalai lantaran
Ivan harus menyelesaikan studi S-2 di Institut Teknologi Bandung. Di
Bandung pula ia beruntung berjumpa Alexander Agung, 28 tahun, sesama
penggemar matematika. Bersama kawan kuliahnya itu ia menyusun modul
praktis pengajaran Metris. pada 2005, begitu modul itu rampung, Ivan
dan Alexander menggelar pelatihan bagi para guru SD dan SMP.
Sebelumnya, mereka sempat mempresentasikan metode tersebut ke
sejumlah dosen di FMIPA UI. Hasilnya? “Metode itu diterima sebagai
sebuah metode pembelajaran baru yang menarik untuk aritmatika,” kata
Alexander yang juga dosen di STEKPI, Jakarta selatan.

Melalui situs http://sigmetris.com , kedua sahabat itu
memasyarakatkan temuan tersebut. Mereka juga menggelar sejumlah
pelatihan bagi guru-guru SD, SMP, dan SMA. Sejauh ini, metode itu
baru diterapkan di SD Regina Pacis, Bogor. Beberapa sekolah lain
segera menyusul setelah pada Desember ini mereka menggelar pelatihan
untuk guru-guru SD. “Tahun depan baru direncanakan kursus bagi anak-
anak,” ujar Alexander.

Sekilas metode ini mirip Sempoa, metode berhitung kuno yang
menggunakan alat hitung dari Cina. Sempoa termasuk populer di
Indonesia karena mengandalkan kecepatan berhitung. Menurut
Alexander, Sempoa dan Metris memiliki kesamaan, yaitu mencapai tahap
perhitungan mental aritmatika dan mengandalkan konsep asosiasi
posisi. Bedanya, dalam Metris konsep asosiasi posisi dipelajari
secara langsung dengan mengenalkan konsep asosiasi posisi dengan
notasi pagar kepada para siswanya. “Sempoa memiliki alur sendiri dan
tak sama dengan pendidikan sekolah, sementara Metris disesuaikan
dengan program pelajaran sekolah,” ujarnya.

Perbedaan yang lain, menurut Alex, Metris membuat anak bisa
menjelaskan langkah yang diambil dengan memakai simbol matematika
seperti yang digunakan di sekolah pada umumnya. Sedangkan Sempoa
tidak. Sempoa, menurut Ivan, membuat anak cenderung individual dan
lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses.

Siswa yang ikut Sempoa kerap tak bisa menjelaskan proses perhitungan
yang dilakukannya kepada orang lain. Penyebabnya lantaran dia tidak
memakai simbol matematika yang diformalkan. Alat peraga berupa manik-
manik biasanya cuma bersifat sementara. “Dalam prakteknya, ia harus
memvisualisasikannya dalam imajinasi, dan tak semua anak bisa
seperti itu,” kata Ivan.

Fakta ini kerap menimbulkan kesalahpahaman. Orang tua sering
menyalahkan guru karena menilai jawaban anaknya salah. Guru biasanya
berkukuh karena tidak tahu apakah jawaban itu buah pikir si anak
atau hasil menyontek. Soalnya, si anak tak bisa menjelaskan
prosesnya. Maka, kata Ivan, “Penggunaan Metris bisa menjadi jembatan
antara Sempoa dan metode vertikal yang dikembangkan sekolah.”

Di SD Regina Pacis, percobaan menggunakan Metris sejauh ini berhasil
mengubah citra matema-tika yang menyeramkan. Dalam percobaan, para
murid awalnya diminta menyelesaikan soal aritmatika dasar dengan
metode lama, yaitu perhitungan dari atas ke bawah. Setelah itu,
mereka diberi soal yang harus diselesaikan dengan Metris. Ternyata
para murid bisa mengerjakan soal dengan lebih cepat dan akurat.
Secara perlahan nilai mereka pun membaik. Tak mengherankan bila
mereka kini menjadi lebih antusias terhadap matematika. “Mereka
menyukainya karena lebih cepat dan mudah,” ujar Ephi.

Beberapa siswa yang dulu fobia alias takut terhadap pelajaran
matematika kini berbalik. Maria Yohana salah satunya. Nona kecil ini
dulu selalu grogi bila pelajaran matematika tiba. Setiap kali ada
ulangan matematika dadakan, nilainya tak lebih dari angka 6. Kini,
semua itu tinggal cerita. Nilai 10 telah biasa ia terima. Maria
bahkan sudah berani mengacungkan tangan, menawarkan diri untuk maju
ke depan kelas untuk mengerjakan soal yang diberikan guru.

Siswa yang berbakat matematika kini juga semakin kreatif
menyelesaikan soal. Beberapa anak menciptakan rumus-rumus sendiri
untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Begitu sukanya mereka
pada matematika sampai-sampai meminta guru mendirikan klub
matematika di sekolah. “Saya membiarkan mereka berkreasi
menyelesaikan soal dengan cara mereka sendiri. Asalkan logika
berhitungnya benar,” ujar Ephi.

Widiarsi Agustina dan Arif Fadillah

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Mengeluh Dari 37.045 Paten Hanya 10% dari Peneliti Indonesia

4 Komentar Add your own

  • 1. mita  |  Juli 4, 2007 pukul 3:18 pm

    Hai mb’..tolong dong dijelaskan lebih detail cara yang dimaksud.aku pingin tau..cz aku lagi cari metode pembelajaran to bwt skripsi.Punya ide g y mb’?

    Balas
  • 2. adi  |  September 17, 2007 pukul 5:28 am

    Bisa menginformasikan alamat yang bisa dihubungi ? Saya tertarik dengan metode ini …

    Balas
  • 3. lenijuwita  |  September 17, 2007 pukul 5:42 am

    Buwath Mita dan Adi Lebih jelas dapat diakses di http://sigmetris.com

    Balas
  • 4. suparno  |  Oktober 29, 2007 pukul 9:14 am

    Bagus, tetapi saya masih penasaran.. karena kurang detil.. bagaimana caranya.. mohon diperjelas. tolong dong via email. kirim yang lengkap
    terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: