Ketika Derita Mengabadikan Cinta

November 12, 2006 at 11:06 am 119 komentar

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua
mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan
Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah
Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.
…”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai
Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti
mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan
kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di
televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah
menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan
berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang
tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung
shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang
kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du.
Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini
perkenankan saya bercerita…
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya,
yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya,
mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil
hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah
lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke
atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat
di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga
aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan
Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit
politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan
keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih
merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah
yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini
ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan
tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang
yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap
memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu
mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan
selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri,
ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di
dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah
hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan
istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali
saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar
lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau
menolak mentah-mentah.

“Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan
kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi,
sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah
menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta
ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.
Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka
datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami
ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada
keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya
beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak
boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya
nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak
terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan
bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati.
Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik
kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak
dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter,
seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke
berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Ganzouri.”
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang
jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini
kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan
penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan
beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata
illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih
keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah
dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak
karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya
kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor
ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku.
Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad
nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima
nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita
sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan
segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar
ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis
lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound,
tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di
jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada
puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara
campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca
bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa
berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini.
Maafkan Kanda!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda
tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada
mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu
ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita
berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita
saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa
optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi
teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan
dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa
uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50
pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang
murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali
bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya
berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan
perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi
kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah
untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan
mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan
uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk
3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah
kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan
satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu
saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan
cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan
gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika
percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari
semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling
nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat
Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak
menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak
memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada
putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah
yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah
dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang
berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa
bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai
mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah
membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun
mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita
hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang
bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua,
ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan
mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami
terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil
sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan
mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor
dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu
mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani
menentang Tuan Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu
pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua
berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu
kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang
berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja
dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah
sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang
skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna
susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak
kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan
niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun
marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan
segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun
penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak
ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan.
Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan
isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada
kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam
itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia
tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang
penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &
lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa
dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program
Magister bersama!

“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat
paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak
berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar
Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk
sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita
wujudkan mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang
kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari
kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal
atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh,
menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis,
itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada
saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar
biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa
sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah
wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam.
Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan
mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan
senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua.
Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil
tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak
dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk
pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal
hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali
tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru
di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai
direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar
di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia
dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt
dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini,
di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk
di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan
bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Entry filed under: Inspiring. Tags: .

Bagaimana cara mengikuti Super Deal 2 Milyar? The International Jew (Hikmah Mizan)

119 Komentar Add your own

  • 1. phie2t  |  November 28, 2006 pukul 9:51 am

    ck ck ck… bagus banget ceritanya… ni kisah nyata? duhh jadi mupenk ^_^

    Balas
  • 2. m. badrrus SH S.Pd.I  |  Desember 7, 2006 pukul 6:45 am

    bagus-bagus aku tertarik aku pingin cepet nikah

    Balas
  • 3. Ketika Derita Mengabadikan Cinta « Cerita Cinta  |  Maret 25, 2007 pukul 5:48 am

    […] Selengkapnya silahkan dibaca di: https://lenijuwita.wordpress.com/2006/11/12/ketika-derita-mengabadikan-cinta/ […]

    Balas
  • 4. Rizqina Azizah  |  April 13, 2007 pukul 4:43 am

    duuuuhhhh… jadi nangis neh… sueeerrrrrrrr….😦

    Balas
  • 5. Dhay  |  April 16, 2007 pukul 7:35 am

    kereeeeeee………..eeennnnnnnnnn

    Balas
  • 6. rad  |  Mei 10, 2007 pukul 10:04 am

    bagus, endingnya masih gantung…..
    gimana dengan keluarga mereka??? apakah mereka sudah bs diterima kembali dikeluarganya????

    Balas
  • 7. roni sanjaya rgs  |  Juli 2, 2007 pukul 10:15 am

    aq sekarang mengalami cinta yg seperti itu.tp orang tuaku setuju,tinggal orang tua cwek saya yg tidak setuju.tp cwek saya lebih memili orang tuanya dibanding saya,apa dia cintanya tidk tulus ya…………? mohon komentarnya

    tergantung alasannya ya, kenapa ia lebih memilih orangtuanya. Nah kalo alasannya ga jelas, mungkin aja cintanya ga tulus, gitu kali ya mas roni?,

    Balas
    • 8. Rizgan  |  Februari 17, 2010 pukul 9:11 am

      Sepertinya kharim ente harus tau tentang cerita ini brother . . .

      Balas
  • 9. toni  |  Agustus 28, 2007 pukul 8:26 pm

    setelah membaca cerita ini aku jadi terharu.ya’
    the best untk motivasi

    Balas
  • 10. Hendra  |  September 15, 2007 pukul 6:47 am

    Salut ama cerita nyata spt ini, Allah tidak buta Selalu memberikan yang terbaik di setiap usaha dan keikhlasan….

    Balas
  • 11. Rahmat  |  Desember 5, 2007 pukul 12:12 pm

    Salut ama kesabaran,ketabahan,ketulusan tuk jalani semua cobaan……..
    yang akhirnya berbuh kebahagian tuk mereka

    Balas
  • 12. acia  |  Desember 29, 2007 pukul 8:32 am

    mau banget liat fotonya dunk boleh kan…di tunggu ya jangan ampe ga ya…???!!!!

    foto sapa mb Cia?🙂

    Balas
  • 13. nez  |  Januari 16, 2008 pukul 6:54 am

    mengharukan bgt… trully inspiring…

    Balas
  • 14. RYNDHAR  |  Februari 7, 2008 pukul 5:06 am

    The Eternal Love…

    Balas
  • 15. perycantiq  |  Februari 12, 2008 pukul 3:40 am

    sumpah ye ni cerpen T.O.P baaangeett….

    Balas
  • 16. perycantiq  |  Februari 12, 2008 pukul 5:52 am

    cinta memang derita!

    Tp aku yakin klo cinta jg bisa membawa kebahagian…

    Nah, sang Perycantiq sudah ketemu cintanya?

    Balas
  • 17. santy  |  Februari 19, 2008 pukul 6:03 am

    ini kutipan ayat-ayat cinta kan…??

    Balas
  • 18. perycantiq  |  Maret 25, 2008 pukul 2:11 am

    Apakah aku pernah terlintas dalam pikiranmu?
    “Tidak”
    apakah kau menyukai aku?
    “Tidak terlalu”
    Apakah kau menginginkanku?
    “Tidak”
    Akankah kau menangis jika aku pergi?
    “Tidak”
    Akankah kau hidup untuk ku?
    “Tidak”
    Pilih aku atau hidupmu?
    “Hidupku”

    Dan kau berkata …
    Alasan kau tidak pernah terlintas dalam pikiran ku adalah karna kau slalu dipikiran ku..

    Alasan mengapa aku tidak suka kau karna aku mencintaimu..

    Alasan mengapa aku tidak menginginkanmu karna aku butuh kau..

    Alasan mengapa aku tidak akan menagis jika kau pergi karna aku akan mati jika kau pergi..

    Alasan aku tidak hidup untukmu karna aku akan mati untukmu..

    Alasan aku tidak akan melakukan sesuatu untukmu karna aku akan melakukan segalanya untukmu..

    Alasan aku memilih hidupku karna kau adalah hidupku.

    Btw lam kenal…
    klo sempet qt tukeran link yaaa…
    YM: karina_perycantiq
    friendster: cimung_lucu@plasa.com
    E-mail: cimung@palcomtech.com

    wass…

    Balas
    • 19. ferlis  |  Mei 29, 2010 pukul 8:26 am

      bagus baNGT …………gw terharu bacanya???

      Balas
    • 20. tassamu khairani  |  Oktober 15, 2010 pukul 7:51 am

      ya ampunnnnnnnn bagus banget………….TERHARU banget!!

      Balas
  • 21. rendy  |  April 17, 2008 pukul 4:00 am

    super duper bagus………….
    sumpah gue yg preman aja nangis…………..

    Balas
  • 22. arny  |  Mei 8, 2008 pukul 10:24 am

    keren banget jadi pengn……………………………………………………………….

    Balas
  • 23. hayatul millah  |  Juni 24, 2008 pukul 11:29 am

    Subhanallah……….KEREN BGTTTTT

    Balas
  • 24. Muslim Dewata  |  Juli 3, 2008 pukul 10:40 am

    Maha Suci ALLAH…

    dalam hati saya berkata, semoga kita di berikan kecerahan hati dalam membaca petunjuknya…

    Balas
  • 25. di_@n  |  Juli 6, 2008 pukul 3:05 am

    Subhanalloh ! …
    Menyetuh perasaan seperti nyata

    Balas
  • 26. Backher  |  Juli 6, 2008 pukul 7:55 am

    Subhanallah…sungguh cerita yg sanggat menakjubkan. Kesabaran,ketabahan serta bi’ah yg tinggi seorang suami-istri bahkan Q kagum pd tokoh istri tsb,siapa sich yg g’pengin pny istri spt itu???hanya lelaki bodoh yg g’mau..!

    Balas
  • 29. xxx  |  Juli 25, 2008 pukul 6:50 am

    Subhanallah,,,,, Maha Suci Allah. Hanya itu yg bisa winda komentari, kekuatan cinta, cinta karena Allah SWT. Berjuang untuk cinta karena mengharap Ridho Allah, Masyaallah luar biasa, dengan kekuatan cinta itu mereka terus berjuang dan tidak akan sia2 kalau kita yakin bahwa Allah bersama orang yg sabar dan sll berjuang.

    Balas
  • 30. Mukti Ali  |  Juli 28, 2008 pukul 8:48 am

    Bagus bagetz critanya, tp akan lebih lengkap klo nasib kluarga nya gmn???
    Nasib ayah & ibu keduanya gmn…???
    jd pnasaran

    Balas
  • 31. Jeny  |  Agustus 5, 2008 pukul 5:48 am

    ceritanya menyentuh bgt. menjadikan inspirasi dalam hidupku.
    sekarang ini sy udah berkeluarga tp terpisah jauh dr suami. dia ingin sy ikut dengannya dimana dia berada disitu sy berada tp sy belum siap dgn berbagai alasan. kerjanya cuma seorang guru SMA yg tentunya penghasilan yg jg pas2an,sementara sy jg kerja dengan gaji yg lumayan bisa menutupi kebutuhanku dan membantu kedua orang tua sy. sy masih merasa berat untuk ikut dengannya,mkn krn sy belum siap menderita bersamanya???
    tp dr dalm hatiku yg paling dalam sy sgt mencintainya, dia seorang suami yg bertanggung jawab dan ingin membahagiakan istri dan keluarganya.
    Mendengar cerita cinta ini sy sepertinya harus mengurungkan niat sy untuk berpisah jauh dr nya. karena dengan bersama walaupun susah pasti semua dapat dilewati dengan indah.
    I Love My Husband!!!! thanks for all

    Balas
    • 32. Ayu  |  Oktober 26, 2010 pukul 8:04 am

      yup… langkah yang tepat mba…
      Semoga Allah selalu dalam berkah kehidupan rumah tangga mba…

      Balas
  • 33. d2  |  Agustus 22, 2008 pukul 12:42 am

    bener2 nyentuh
    mpe sedih nich

    Balas
  • 34. malau  |  September 17, 2008 pukul 12:15 am

    saya mengalami seperti itu.
    awalnya pacar saya tidak mau terhadap cowok pilihan bapaknya.
    tpi lama kelamaan hatinya luluh dengan cowo tersebut.
    paDAhal cinta saya tulus.
    apakah masih akan terus saya perjuangkan.

    Balas
  • 35. kelelawar77  |  September 17, 2008 pukul 10:09 am

    Subhananllah…

    Balas
  • 36. anox  |  September 27, 2008 pukul 3:32 pm

    keren banget…….. subhanallah, emang sih kalau orang ingin dapat kemulian dari Allah SWT pasti dapat ujian, jangan kan manusia biasa, nabi dan rosul juga dapat cobaan, sperti nabi kita Muhammad SAW Beliau dapat kemulian stelah mendapat cobaan yang luar biasa dari kecil sudah yatim piatu, ketika besarpun masih dimusuhi dengan orang Qurais. apalagi kita selaku manusia biasa, arus dong melewati ujian dan cobaan hidup tuk mendapat kemulian hidup.

    Balas
  • 37. Truly_luv  |  Oktober 7, 2008 pukul 3:19 am

    Serius neh crt bnran trjdi??? Wah…saluuuuuuuut!!!! Q jadi semakin mnghrgai prnkahan dbnding pcran yg gk jlas hubunganx m dbwa k mna?!! 2 thumbs up 4 u!!!

    Balas
  • 38. andri  |  Oktober 8, 2008 pukul 1:09 pm

    hebat………………….. sungguh bahagia orang yang bener2 bisa ngrasain indahnya cinta dibawah perlindungan ALlah SWT. Maha Besar ALlah dengan segala nikmat dan perlindungannya………..

    Balas
  • 39. fatur  |  Desember 2, 2008 pukul 4:19 am

    ceritanya indah n menyejukkanku, aku minta do’anya ya…. semoga seseorang yang ada di hati ini adalah seseorang yang telah dipilihkannya untukku

    Balas
  • 40. vie  |  Desember 4, 2008 pukul 9:41 am

    hari ini aq baca sebuah cerita yg benar2 menggugah perasaan ku, yang mengajariku betapa kuatnya cinta itu dan bisa mengalahkan segalanya.

    buat penulis,,,

    sumpah…. keren bgt,,,

    thx yah,,, aq benar2 terharu sampai meneteskan air mataku,,,

    Balas
  • 41. Elmadina  |  Desember 11, 2008 pukul 4:24 am

    Critany nyentuh bngeett,,gmana nsib keluarga mrk ? Q jg brharap,,sm0ga yg ada d hatiku saat ini jg menempatkan aq pd hatinya..

    Balas
  • 42. Elmadina  |  Desember 11, 2008 pukul 4:27 am

    Fierq..Bl km dah bc crita ini,q harap km g lg brpkr bhwa kt ini berbda spt langt nd bumi..

    Balas
  • 43. aiBee  |  Desember 28, 2008 pukul 7:49 am

    kayakny pernah baca >>> dimana ya..???
    biar udah baca tetep sedihnya gak ilang2…

    Balas
  • 44. windy'zZ  |  Januari 6, 2009 pukul 9:52 am

    ceritanya begitu memotivasi kehidupan saya. begitu menggugah semangat dan tak lupa lebih meningkatkan ktakwaan kita terhadap Tuhan semesta alam, ALLAH SWT. terima kasih atas karya tulisnya. karena bisa membuat mata kitaterbuka bahwa kekuatan cinta tak kan terputus karena ridho ALLAH SWT. untuk penulis, buat lagikarya tulis yang lebih bagus lagi dari yang ini ya….. semoga sukses aja….. salam kenal aja dari WINDY

    Balas
  • 45. LALA  |  Januari 17, 2009 pukul 4:16 am

    ALLAHUAKBAR ALLAH MAHA BESAR tiada kata2 yang dapat melukiskan betapa besar – Mu ya Allah hanya petunjuk-Mu yang dapat menerangkan jalan pada hamba – hamba-MU yang tak berdaya dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan-MU.

    Balas
  • 46. Windu Mahmud  |  Januari 18, 2009 pukul 8:17 am

    Trims, ceritanya seru. lalu aku copy ke blogku biar mudah carinya

    Balas
  • 47. rendy  |  Januari 27, 2009 pukul 1:19 pm

    trima kasih utk critanya, jujur utk pribadi, ini mnjadi plajaran dan motivasi utk khidupanku.

    Balas
  • 48. ARSIN  |  Januari 28, 2009 pukul 5:18 am

    ALLAH AKBAR MAHA BESAR ALLAH ATS NIKMATNYA……..
    CINTA ADLAH TANGGUNG JAWAB N KASIH SAYANG PAD ILLAHI,…BGS BUANGET NE MEMBUAT AKU YAKIN DENGAN CINTA TO MERAIH CINTA ILLAHI SANGAT ASING DENGAN MANUSIA LAIN TAPI KITA AKAN MEREGUK NIKMATNYA SURGA DUNIA AKHIRAT WALAUPUN BERAT DIDUNIA TAPI MANIS RASANYA………

    Balas
  • 49. sandy  |  Januari 30, 2009 pukul 2:56 am

    keren…

    cukup 1 kata yaitu bagus…

    Balas
  • 50. nenny  |  Februari 1, 2009 pukul 11:45 am

    jadi terharu….BANGET…..ne

    Balas
  • 51. farid  |  Februari 2, 2009 pukul 3:54 pm

    Bagus banget ceritanya…………
    kebetulan saya juga mau menikah…
    mudah2 an cerita ini bisa saya dan istri saya nanti untuk dijadikan panutan…
    amin
    Maha besar Allah dengan segala firmanNya.

    Balas
  • 52. oswal  |  Februari 5, 2009 pukul 5:02 am

    saya sangat terkesan melihat sikap dari sepasang suami-istri tadi,dimana kesabaran merupakan dasar dari sebuah kehidupan. dan Allah adalah sebuah kompas untuk mencapai sebuah kehidupan yang sangat bahagia…amin

    Balas
  • 53. Santosa  |  Februari 8, 2009 pukul 5:29 pm

    Sangat bagus cerita ini, Subhanallah semoga Allah memberikan kekuatan pada kita dalam mengatasi semua masalah di dunia ini dan semoga kita bisa menghadapi semua masalah dengan ikhlas dan sabar, amin.

    Balas
  • 54. sajaksufi  |  Februari 14, 2009 pukul 2:53 am

    VALENTINE’S DAY

    wajah-wajah ceria
    cahaya-cahaya lampu kota
    terang berbinar menyempurna
    hari kasih sayang nan bahagia

    angin yang tenang
    malam yang semakin kelam
    mengusir segala muram
    dan kelana dingin di senyap gelap

    adakah sesuatu yang dapat mengubah dunia
    selain saling mencinta sesama manusia?

    Balas
  • 55. Yuihastie  |  Maret 16, 2009 pukul 5:01 pm

    Wah keren..
    Andai kisah cintaku jg bs spti it alangkah indahny sbuah pngorbanan..
    Cinta kepd Allah hgga akhirny berbuah kebhgiaan..
    Tp sygny org yg ku cintai mnghancurkn smua impian it janji menikah hny lelucon
    org yg ku cintai melepas hatiny tuk org laen..
    Pdhl aq rela brkorban slama 2th backstreet ma ortu tp akhirny org yg ku cintai lbh tepat tdk tulus.

    Balas
  • 56. Defrina  |  April 2, 2009 pukul 3:40 pm

    Ceritanya bagus banget…
    Cinta yg tuluz adlh cinta tnp ngliat mteri,cnta yg tnp mmdang s2org dr ap pun,tp dr hti…
    Dan tak ad alsan tuk mcintai s2orang.sprti shiddqa,istri profsor yg ikhlz mcntai suaminy.subhanallah,.

    Balas
  • 57. Icha  |  April 17, 2009 pukul 9:56 am

    Subhanallah,,,
    Maha suci Allah yang telah menciptakan cinta sedemikian besar yang tetap bertahan dalam penderitaanSaya nangis bacanya

    Balas
  • 58. Ira  |  April 21, 2009 pukul 12:14 am

    Kang abik emang jagonya bkn crt romantis yg berlatarbelakang timur tengah. Tp tetep g keluar dr koridor agama. Ampe nangis d…

    Balas
  • 59. Ani  |  Mei 7, 2009 pukul 9:09 am

    Cerita yang menarik…..
    Semoga bisa jadi pelajaran (sabar&syukur) buat aku & suamiku.

    Balas
  • 60. WAWAN  |  Juni 23, 2009 pukul 9:09 am

    Mudah-mudahan allah SWT memberikan saya seorang istri seperti cerita diatas…..amin….

    Balas
  • 61. tian  |  Juni 28, 2009 pukul 9:01 am

    suBhaLLoh……
    begitu menGhaRukan cErita ini
    membuat buLu kuDuk saya merindiNK
    kekuatan cInta yang di ridhoi 4jjl sungguH takjub
    tak bisa di unGkaPkan dengan kata”
    tp sekaRAng tak jaRaNg oRaNg tak meNghaRgai cinta
    seMoga saYa meNdaPAtkaN peNdaMbing hidup yang baik
    yang di berikan 4jjl SWT…..aMin.

    Balas
  • 62. siti  |  Agustus 27, 2009 pukul 10:48 am

    wahh crtnya bagus sekali
    aku tersentuh dengan kesabaran yang ada pada mereka
    mudah-mudah an aku memiliki kesabaran sprti mereka

    Balas
  • 63. eric  |  Agustus 31, 2009 pukul 4:51 pm

    subhanallah, begitu besar cinta anda kepada sosok wanita yang anda cintai…. begitu besar nikmat hamba yang mau bersyukur dan apa yang diberikan bgenar-benar surga dunia….. begitu hidup penuh dengan cinta, seperti pepatah mengatakan “berakit-rakit k hulu,, berenang renang kemudian”……. mungkin bsa dikatakan begitu……..

    Balas
  • 64. dana  |  Oktober 7, 2009 pukul 8:35 am

    saya sangat terharu.saya berharap memiliki suami yg bisa menemani saya hidup menderita.

    Balas
  • 65. yudhistra  |  Oktober 12, 2009 pukul 6:41 am

    subhanllah… saya sngt terharu dan merinding ketika mmbaca ceria ini , sangat menginsirasi apalgi ini sebuh kisah nyata…. bgus bget…..

    Balas
  • 66. Dewi  |  November 18, 2009 pukul 5:20 am

    Mbak mau tanya no hp yang bisa dihubungi brp?
    ada yg mau saya tanyakan ttg beliau dan kisah beliau

    Balas
  • 67. aru  |  Desember 28, 2009 pukul 11:38 pm

    subhanallah ….

    Balas
  • 68. lisa  |  Januari 5, 2010 pukul 8:06 am

    crita nya bgus bnget,,,,aku smpai terharu crita ini sangat menyentuh hati ku…smoga say mndptkan jdoh spti mamduh dan berika aku kesbaran sprti istri nya mamduh amin……..

    Balas
  • 69. yunita kencana  |  Januari 7, 2010 pukul 5:02 am

    sangat terharu membaca kisah ini…sungguh menakjubkan…kuasa Allah yg tiada tara..kesabaran yg membawa pada kebahagiaan yang sesungguhnya…semoga aku mendapatkan cinta yang diridhoiMu yaAllah…Amin…

    Balas
  • 70. Septi  |  Januari 13, 2010 pukul 6:02 am

    Subhanallah
    aku sampe gak tau harus komentar apa
    baguuuussss banget
    menyentuh……
    amat membekas dihati
    semoga aku juga bisa mendapatkan cinta yang diridhoi Allah SWT…
    Amiin….

    Balas
  • 71. va-rio  |  Maret 7, 2010 pukul 4:51 pm

    cerita yg menarik,,.bgs,,dan memberi motovasi buat orang2 yg memiliki cinta,,…!!

    satu pesan ya bisa saya ambil di cerita ini,,.hrgai lah cinta itu sendiri,,.!!krna,,klo qt menghargai cinta,,.itu sam hal ny qt menghaagi diri qt sendiri,,.

    Balas
  • 72. arman  |  Maret 29, 2010 pukul 11:43 am

    dengan segala hormat sayaber terima kasih buat sang penulis, bukan hanya sebuah karya yang menyentuh tp juga memberi banyak motivasi yang lebih baik. sekali lagi terimah kasih!

    Balas
  • 73. linda  |  April 21, 2010 pukul 12:49 pm

    bgus bngt ceritanya….
    yang pnting adalah bisa di ambil hikmahnya…

    Balas
  • 74. yatmi  |  April 30, 2010 pukul 1:22 pm

    Love story… pelajaran cinta yg sangat menarik…. Indahnya cinta dapat lebih terasa stelah mndapatkan ujian… smoga kita smua mampu mlewati ujian itu…………

    Balas
  • 75. Putriidol  |  Mei 2, 2010 pukul 8:25 am

    So sweet……..
    ^_^

    Balas
  • 76. Diana  |  Mei 6, 2010 pukul 9:36 am

    kisah yg mghrukan sx,,,,
    air mta mnetes mmbca y,,,

    Balas
  • 77. Aep Saepul  |  Mei 24, 2010 pukul 7:52 am

    ,,,Keikhlasan pasti kan berbuah manis dan indah,,,

    Balas
  • 78. amey  |  Juli 16, 2010 pukul 11:35 am

    terharu,,,,brdo’a mg dpt laki2 yg px cnta sjati spt itu,,,,

    Balas
  • 79. ndox  |  Agustus 8, 2010 pukul 2:18 am

    yg preman aja ampe nangis bca crita ini..
    apalagi bos mafia kyk q…
    hiks hiks..
    pertamax ceritana

    Balas
  • 80. jodht  |  Agustus 8, 2010 pukul 4:30 am

    SUBHANALLAH…
    sampai nangis bacanya…
    Kekuatan cinta yg Allah berikan itu sangat nikmat sekali, walaupun di awali dengan kesulitan…
    ALLAHU AKBAR..

    Balas
  • 81. rydyf  |  Agustus 19, 2010 pukul 7:25 am

    ya ALLAH sungguh besar kekuatn cinta bila telah engkau ridhoi….

    Balas
  • 82. Shinto-Romeo  |  Agustus 27, 2010 pukul 6:52 pm

    Sungguh luar biasa kekuatan iman dan cinta mereka…
    “TAPI” Masih adakah di zaman seperti sekarang ini CINTA SEJATI??
    Jika memang masih ada… Mengapa begitu sulit aku menemukan seseorang yg benar-benar tulus mencintaiku tanpa memandang kekayaan dan jabatanku…
    Justru kebanyakan dari mereka yang pernah aku cintai,Mereka selalu melihat apakah pekerjaanku?,apa jabatanku di kantor?,seberapa besar gajiku perbulan…?
    Ya… itulah kenyataan yang saya alami selama ini dalam pencarian “Cinta sejati” di zaman seperti sekarang ini.
    Karena memang pernah suatu hari satu di antara mereka bertanya kepadaku,, “Mas memang jabatan mas di kantor apa sih..?terus..berapa honornya?”Lalu kujawab aja untuk mengetes reaksinya dengan jawaban OB (Office Boy) dan gaji di bawah 1,5jt..
    Ternyata eeh ternyata.. hari berganti hari,Bulan berganti bulan.. lama2 si dia mulai menjauh…N.. Hemm…Dasar cewe $ kabur deh tanpa sebab…
    dan ternyata hebatnya lagi baru seminggu pisah si’dia udah punya pacar lagi….

    “Tapi saya tetap optimis bahwa di dunia ini masih banyak cinta-cinta sejati yg akan tetap tumbuh di antara jutaan manusia pemuja harta”

    Semoga kisah cerita cinta dan derita Prof. Dr. Mamduh Hasan
    Al-Ganzouri ini membuat mata hati kita terbuka,Bahwa sebenarnya Cinta sejati adalah surganya dunia yang banyak di cari setiap manusia…Bahkan iblis pun pasti bakalan iri…

    Pokoknya sukses deh Cer-pennya…

    Balas
  • 83. chico  |  September 12, 2010 pukul 4:37 pm

    sumpah nie cerita buat gw terharu,,,,bgus bgt,,,,,,,,,,,,,

    Balas
  • 84. sukma  |  September 21, 2010 pukul 5:46 pm

    masa siy kluarganya bgitu???,,,, sepertinya fiksi ya??,,,, ga da kluarga yang menginginkan anggota kluarganya hidup menderita,,,

    Balas
  • 85. nur rokhman  |  September 26, 2010 pukul 2:43 am

    Cerpen ini sangat inspiratif…sehingga banyak hikmah yang kita peroleh. sudah selayaknya kita memberikan penghargaan kepada penulisnya. salah satunya dengan mencantumkan nama penulisnya dan darimana sumbernya.
    sumber cerpen ini :
    “Di Atas Sajadah Cinta – Ketika Derita Mengabadikan Cinta [Habiburrahman El Shirazy]”

    Balas
  • 86. HARUM  |  September 26, 2010 pukul 3:02 am

    WALAU ENGKAU TELAH DISANA DAN TIDAK BISA BERKREASI LAGI..TAPI KARYAMU MASIH BISA KAMI MANFAATKAN..
    SEMOGA BLOG INI MENJADI JALAN PENERANG DI ALAM KUBURMU…
    http://lukmanhakimch.multiply.com/journal/item/190/RIP_Leni_Juwita_si_centil_tea

    Balas
  • 87. ani  |  Oktober 1, 2010 pukul 1:20 am

    keren banget……..! Subhanallah

    Balas
  • 88. wie  |  November 3, 2010 pukul 5:19 am

    subhanallah, sungguh luar biasa!!..

    Balas
  • 89. rahmad hidayat  |  November 16, 2010 pukul 6:29 pm

    bisa kita bayangkan….. seseorang yang dulunya anak bangsawan harus rela hidup menderita karena mempertahankan sebuah ikatan cinta….. tapi karena keyakinan dan keinginan yang kuat mereka mampu menggapai hidup yang serba kemewaha….. sungguh ku takjub mendengarkan cerita nya

    Balas
  • 90. safriani  |  Desember 6, 2010 pukul 10:27 am

    SUBHANALLAH

    Balas
  • 91. andi  |  Desember 13, 2010 pukul 10:41 am

    subhanallah cerita ini sangatlah bagus….
    dan perjuangan yang sangatlah berat dan harmonis
    jika smua manusia bisa menjalani hidup bahagia dengan cinta dan di budidayakan dengan kesabaran pasti hidup kita untuk kedepannya akan lebih bak dan mulya…..

    Balas
  • 92. jasmine  |  Januari 6, 2011 pukul 11:42 am

    sungguh besar rahmat allah swt.
    tiada taranya..

    Balas
  • 93. dewie cutee  |  Maret 6, 2011 pukul 9:43 am

    subhanaallah,,,sungguh penderitaan kesabaran yg luar biasa yg dmiliki spsang suami istri ini,,sngat langka djumpai dkhdupan skrg,,,sang istri yg brjiwa malaikat dan sang suami bijaksana serta pnyabar,,mdh2n cerita nyata ini bsa jdi tauladan untk kta smua,,,dn trutama sya,,,,amin,,..

    Balas
  • 94. dony sinaga  |  Maret 17, 2011 pukul 3:21 am

    kok cerita nya cewek berjilbab biru mulu yah… ada cerita lain gak…

    Balas
  • 95. Ketika Derita Mengabadikan Cinta | Cepty's Page  |  April 15, 2011 pukul 3:54 am

    […] (sumber : lenijuwita) […]

    Balas
  • 96. anhi  |  Mei 2, 2011 pukul 11:36 am

    ya’allah crita bguss bnget.. insya allah sy bsa jdi istri yg sperti itu.. amiii

    Balas
  • 97. dietie  |  Mei 14, 2011 pukul 12:28 pm

    SUBHANALLAH……..
    mengharu biru, tapi nggak kacangan……. indahnya cinta karena Allah,,,, jadi ngiri….. ‘o’>

    Balas
  • 98. Rz  |  Juli 19, 2011 pukul 8:07 am

    pengen ky gitu, tp apa bisa ???
    org yg kucintai saat ini udah punya pacar, tp aku ttp mempertahankan cinta ku padanya.

    Balas
  • 99. Fajar Wirawan  |  Agustus 18, 2011 pukul 10:01 pm

    kisah dan tauladan bagi generasi muda,yang mudah lupa akan tujuan berumah tangga.dan mulianya sebuah kesetiaan baik dalm masa senang apalagi dalam keadaan susah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

    Balas
  • 100. junaedi gunawan  |  Desember 21, 2011 pukul 7:02 pm

    great love story. . . .
    allah takdirkan jln hdup mnusia berbeda, jd mungkinkah k’teguhan hati tokoh utama jga adlh takdir / skenario allah?
    kdang sya b’tanya knpa hti sya slalu sja tk mpu teguhkan langkah sya mnju apa yg sya ingin lakukan utk jdi mnusia terbaik dlm imajinasi saya!
    mungkin’kh itu yg allah tkdirkan?
    klo bukan, apa yg salah dari diri N HATI ini, knp smpai skrng sya slalu mrsa tk mpu teguhkan langkah hidup sperti teguh k’inginan dlm hati.
    mkin anda punya solusi untuk orng sperti saya.

    Balas
  • 101. Faijah  |  Desember 29, 2011 pukul 8:58 am

    Cerita ini memberiku motifasi tuk lbih bisa menyadarkan dy. thanks yah

    Balas
  • 102. Bayanah putri  |  Desember 31, 2011 pukul 2:14 am

    Allah Ho Akbar….Allahlah sang maha penulis skenario kehidupan yang maha dahsyat

    Balas
    • 103. ida ummah  |  Januari 13, 2012 pukul 3:37 am

      aduhhh sooo sweeet…………………………..

      Balas
  • 104. cici  |  Januari 20, 2012 pukul 11:11 am

    Terharu baca crita ini,,,,
    Cinta memanglah sangat luar biasa,,
    Cinta restu ALLAh, bukan cinta karna nafsu semata
    Semoga sangat bermanfaat

    Balas
  • 105. andy  |  Februari 20, 2012 pukul 9:14 pm

    masyaallah,
    sungguh 1 contoh tauladan yg patut kt contoh dlm hdup brumah tngga,
    sungguh luar biasa,

    Balas
  • 106. vera jrocks  |  Februari 29, 2012 pukul 8:43 am

    sangat indah

    Balas
  • 107. harus dibaca ya | papersi2es talk about  |  Maret 17, 2012 pukul 9:16 am

    […] silahkan dibaca di: https://lenijuwita.wordpress.com/2006/11/12/ketika-derita-mengabadikan-cinta/ This entry was posted in Uncategorized by admin. Bookmark the […]

    Balas
  • 108. HaDyy Seo'l  |  April 5, 2012 pukul 3:45 am

    suatu penderitaan yang begitu bahagia di ujung perjalanan, sehingga saya tidak dapat berhenti meneteskan air mata, cinta yang tulus, keikhlasan, pengorbanan, dan penantian yang membuat sesuatu begitu indah.

    Balas
  • 109. Isti qomah  |  April 7, 2012 pukul 3:39 pm

    Sungguh sesuatu banget buat saya,saya yg sekarang memilih cinta dan merasakan hidup tanpa sepeser uangpun,sekarang,saat ini.semga cerita ini bisa menjadi penyemangatku kembali

    Balas
  • 110. sonya prastya  |  April 10, 2012 pukul 7:44 am

    Masya Allah….Sungguh indah rencana mu ya Robb..

    Balas
  • 111. aan  |  April 18, 2012 pukul 4:34 am

    Bangus banget banget jadi menangis dan ikut terhanyut semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dan jadi orang yang selalu bersyukur kepada Tuhan sang pencipta, amin ya robbal alamin

    Balas
  • 112. comp01pc  |  Juni 14, 2012 pukul 6:27 am

    luar biasa ternyata kekuatan cinta… subhanallah…

    Balas
  • 113. nieta  |  Agustus 5, 2012 pukul 2:57 am

    sengsara membawa nikmat…..
    subhanallah,,,,luar biasa ceritax…!

    Balas
  • 114. Umar Syarif  |  Agustus 23, 2012 pukul 4:31 am

    Bener2 mengharukan,kekuatan cinta yg diridhai Allah ,smg qt bisa mengambil contoh dr uraian diatas

    Balas
  • 115. wifansta love  |  Oktober 20, 2012 pukul 2:14 am

    cerita yg luar biasa,,,,,aku trharu sx,,,,,,
    allah mmang maha pnyayang,,,,,

    Balas
  • 116. Ketika Derita Mengabadikan Cinta | PROFITCLICKING CIKARANG  |  November 17, 2012 pukul 9:37 pm

    […] (Sumber: https://lenijuwita.wordpress.com) […]

    Balas
  • 117. m habib fadilah  |  Juli 23, 2013 pukul 12:09 am

    subhanallah
    ini sungguh cerita yg sangat bagus
    stiap ujian pasti ada balasanx,
    stelah bertahun tahun diuji, akhirx allah memberikan berkahnya
    sungguh cerita yg memotivasi

    Balas
  • 118. Anzani  |  Desember 29, 2013 pukul 6:54 am

    Subhanallah,,btp dras air mta ini ktika usai membca crita ini.sungguh mengharu biru.

    Balas
  • 119. Yelie  |  Januari 5, 2014 pukul 5:09 pm

    Subhanalloh……
    Cerita kehidupan yang penuh hikmah…
    Sungguh calon bidadari syurga ny alloh swt. Untuk ny

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: