“Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat “

Oktober 6, 2006 at 4:12 pm 29 komentar

jalal-center.com

Oleh: Adian Husaini

Jalaluddin Rakhmat, memanipulasi ayat untuk mendukung gagasan Pluralisme Agama. Cara seperti ini sama saja dengan “menjual minyak babi bercap onta”. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke 164 Pada tanggal 19 September 2006 lalu, bertempat di kampus Universitas Paramadina Jakarta, saya diundang untuk membahas buku baru dari Dr. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan. Sejak awal, saya sebenarnya enggan melayani perdebatan tentang Pluralisme Agama, karena berdasarkan pengalaman, selama ini, perdebatan seperti itu tidak banyak membawa manfaat. Tetapi, karena ada pertimbangan khusus, undangan itu saya terima. Beberapa pekan sebelumnya, saya sudah bertemu dengan Jalaluddin Rakhmat, yang biasanya dipanggil sebagai Kang Jalal. Dalam forum tersebut Jalal menyatakan, bahwa menjadi orang Kristen yang beramal shalih lebih baik daripada menjadi orang muslim yang jahat. Saya sempat kirim SMS mempertanyakan ucapan dia tersebut. Dengan niat ingin berdakwah dan menjelaskan kekeliruan pandangan Pluralisme Agama tersebut di kampus Paramadina, saya bersedia menghadiri forum tersebut. Ternyata forum itu sangat ramai. Pengunjung berjubel memadati ruangan. Maka, sedapat mungkin, saya mencoba menjelaskan kekeliruan paham Pluralisme Agama, termasuk yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat melalui bukunya tersebut. Untuk itu, pada malam itu, saya luncurkan juga buku baru saya yang berjudul Pluralisme Agama: Parasit bagi Agama-agama. Salah satu yang saya kritik keras adalah cara Jalaluddin Rakhmat dalam mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang dia katakan sebagai ayat pluralis. Tampak, ada pemutarbalikkan makna ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan untuk melegitimasi pandangan Pluralisme Agama, seolah-olah Pluralisme Agama adalah paham yang dibenarkan oleh Al-Quran . Cara seperti ini sama saja dengan “menjual minyak babi tetapi diberi cap onta”. Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan dengan semaunya sendiri untuk membenarkan paham yang salah. Dalam bukunya tersebut, misalnya, Jalal mengutip, pendapat Rasyid Ridha dalam Kitab Tafsir al-Manar Jilid I:336-338, tentang penafsiran QS al-Baqarah: 62, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Shabiin, siapa saja yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal shalih, maka mereka akan mendapatkan pahala dari sisi Allah dan tidak ada ketakutan dan kekhawatiran atas mereka. Dalam ayat ini, menurut Jalal yang mengutip Rasyid Ridha, kaum Yahudi dan Kristen akan dapat meraih keselamatan meskipun tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jadi, untuk meraih keselamatan, seseorang hanya disyaratkan beriman kepada Allah, iman kepada hari pembalasan, dan beramal saleh tanpa wajib beriman kepada kenabian Muhammad saw. Bahkan, Jalaluddin Rakhmat juga menyatakan: Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk sorga. Semua agama benar berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its particular culture. Mereka percaya rahmat Allah itu luas. Pendapat semacam ini sudah pernah dikemukakan oleh tokoh Pluralis Agama Prof. Abdul Aziz Sachedina, yang menulis: Rashid Rida does not stipulate belief in the prophethood of Muhammad for the Jews and Christians desiring to be saved, and hence implicitly maintains the salvific validity of both the Jewish and Christian revelation. (Terjemahan bebasnya: Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan untuk diselamatkan, dan karena itu, ini secara implisit menetapkan validitas kitab Yahudi dan Kristen). (Lihat Abdul Aziz Sachedina, Is Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic Self-identification in the Classical and Modern Age, dalam Hans Kung and Jurgen Moltman, Islam: A Challenge for Christianity, (London: SCM Press, 1994)). Baik Jalaluddin Rakhmat atau Sachedina sama-sama bersikap manipulatif dalam menampilkan pendapat Muhamamd Abduh dan Rasyid Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab. Mereka hanya mengutip Tafsir al-manar Jilid I, dan tidak melanjutkan telaahnya kepada bagian lain Tafsir al-Manar. Jalaluddin Rakhmat bahkan menyimpulkan bahwa Rasyid Ridha seolah-olah merupakan seorang pluralis. Padahal, jika mereka mau menelaah bagian Tafsir al-Manar lainnya, akan dapat menemukan pendapat Mohammad Abduh atau Rasyid Ridha yang sangat berbeda dengan kesimpulan mereka itu. Dalam forum di Paramadina tersebut, saya bawakan fotokopian Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, yang dengan tegas menyebutkan, bahwa bahwa QS al-Baqarah:62 tersebut adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya kepada mereka, sehingga kebenaran agama Islam tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, Rasyid Ridha menggunakan QS Ali Imran ayat 199 sebagai landasannya. Kepada mereka ini, untuk meraih keselamatan, maka harus memenuhi lima syarat, yaitu: (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu’), (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harta benda dunia. Abduh mengakui adanya Ahli Kitab yang memenuhi kelima syarat itu, hanya saja jumlahnya sedikit, dan mereka itu merupakan orang-orang pilihan dalam hal ilmu, keutamaan, dan ketajaman penglihatan batin. Mereka tersembunyi dalam lipatan-lipatan sejarah atau di lereng-lereng gunung dan pelosok-pelosok negeri, dan oleh agama resmi mereka malah dituduh sebagai kafir dan pengikut ajaran sesat. Itulah pendapat Abduh dan Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab sebagaimana ditulis dalam Tafsir al-Manar, yang secara gegabah dimanipulasi oleh Abdul Aziz Sachedina dan Jalaluddin Rakhmat. Tindakan memanipulasi pendapat mufassir semacam ini adalah tindakan yang sangat tidak terpuji, apalagi digunakan untuk mendukung paham Pluralisme Agama, yang sama sekali tidak dilakukan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Jika mau mendukung paham Pluralisme Agama, lakukanlah dengan fair dengan membuat tafsir sendiri, baik Tafsir Jalaluddin Rakhmat atau Tafsir Sachedina, tanpa memanipulasi pendapat ulama atau tokoh yang lain. Dengan logika sederhana kita bisa memahami, bahwa untuk dapat “beriman kepada Allah” dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat- Nya. Juga, hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah dengan benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu melalui rasul-Nya. Sejak lama Jalaluddin Rakhmat dikenal sebagai pakar dan jago komunikasi massa. Kata-katanya mengalir dan bisa menyihir orang yang mendengarnya. Saya melihat, bagaimana hebatnya dia dalam mempengaruhi orang, apalagi yang tidak sempat mengecek sendiri ayat-ayat atau tafsir Al-Quran yang dikutipnya. Saya berpikir, alangkah sayangnya, kepandaian dan kehebatan itu jika digunakan untuk menyesatkan manusia. Padahal, jika kepandaian itu digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, akan sangat bermanfaat, bagi diri Jalaluddin Rakhmat sendiri, maupun bagi umat Islam secara keseluruhan. Selama ini, Jalaluddin Rakhmat banyak dikenal sebagai penyebar ide-ide Syiah di Indonesia. Entah mengapa, dia sekarang meloncat lagi menjadi penyebar ide-ide Pluralisme Agama, yang amat sangat kacau dan merusak. Tampilnya Jalaluddin Rakhmat sebagai penyebar ide Pluralisme Agama tentu saja menambah darah baru bagi para pendukung paham ini. Tetapi, jika ditelaah, argumentasi yang digunakan masih seputar itu-itu juga. Ayat-ayat yang dikutip dalam Al-Quran juga dipilih-pilih yang seolah-olah mendukung paham Pluralisme Agama. Tetapi, karena pendukung paham ini kadang begitu pandai dalam mengutip ayat-ayat al-Quran, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang tertipu, menyangka minyak babi yang dijajakan mereka sebagai minyak onta. Dengan masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam barisan penyebar paham ini, maka sekarang, bagi umat Islam, sudah makin jelas, di barisan mana Jalaluddin Rakhmat berada. Di akhir presentasi saya, secara terbuka, saya mengajak Jalaluddin Rakhmat untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan paham Pluralisme Agama dan kembali kepada iman Islam. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan kekeliruan mereka. Jika mereka tidak mau menerima, tugas saya untuk menyampaikan sudah selesai. Terserah mereka, Jalaluddin Rakhmat dan pendukung Pluralisme Agama lainnya, untuk mengambil sikap. Di atas semua itu, sebagai Muslim, kita patut merenungkan firman Allah SWT: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS Al-Anam:112) Mudah-mudahan, sebagai Muslim yang mengimani kebenaran Islam, kita tidak termasuk ke dalam barisan musuh para Nabi. Amin. (Jakarta, 29 September 2006/www.hidayatullah. com).

Entry filed under: moslem. Tags: .

Ramadhan 1427 H/ Oktober 2006 Berbagi Waktu

29 Komentar Add your own

  • 1. bahtiar  |  Oktober 7, 2006 pukul 5:05 am

    🙂

    Balas
  • 2. aufklarung  |  Oktober 9, 2006 pukul 3:52 pm

    Saya membaca tulisan ini. Alangkah baiknya jika memasang tulisan tidak sepihak. Coba sertakan pandangan Jalaluddin Rakhat, supaya pembaca juga bisa menilai dari dua sisi. Mengenai pandangan Adhian husaini buat saya sih hal yang biasa saja. Namanya juga pandangan. Dia menyesat-sesatkan juga hak dia. Yang kurang bagus dari Adhian adalah sikapnya yang apologis, tidak ilmiah dan cenderung mengklaim dengan retorika yang jauh dari intelektualitas. Seolah-olah Islam yang benar hanya jika mengikuti pendapatnya.Enggal intelelek gitu loh…..Jaman sudah mdern begini kok masih pakai pola pikir kolot dan reaksioner. Ilmiah dikit napa?

    Balas
  • 3. 30  |  Oktober 20, 2006 pukul 4:42 pm

    aufklarung
    anda penganut paham plurarisme kan?
    perlu anda ketahui bahwa banyak hal dalam agama y tidak bisa ditafsirkan dengan logika atau y anda sebut secara “ilmiah”

    Balas
  • 4. 30  |  Oktober 20, 2006 pukul 5:10 pm

    sok tau banget ya “30”…!!
    sory aja deh!
    just-kiding buat “soal pluralisme-nya”

    Balas
  • 5. Girandra  |  Oktober 23, 2006 pukul 3:30 am

    Mungkin bisa disampaikan Penulis blog YTH, penjelasan pendukung “minyak onta” yang anda tawarkan kepada umat… ?
    apakah anda yakin minyak onta yang anda tawarkan bukan dari onta hasil gelonggongan ?

    Balas
  • 6. mustafa syauqi  |  Oktober 23, 2006 pukul 2:41 pm

    hari begini masih sibuk ngurus agamanya orang lain,…lah itu masyarakat diberdayakan diajari politik, ekonomi dan budaya ,…supya bisa belain diri mereka sendiri dalam menghadapi penguasa yang super zalim seperti di Indonesia

    Balas
  • 7. had  |  Oktober 31, 2006 pukul 3:19 pm

    lebih baik mana orang islam (syarat minimal) yang membunuh orang lain tanpa hak,mabuk, memperkosa, membuat orang lain tidak nyaman dengan orang nasrani/yahudi yang penyayang, mengulurkan tangan untuk kaum papa, membantu orang yang terkena lepra, memasukkan bahagia ke dalam hati orang lain?

    Balas
  • 8. aufklarung  |  November 8, 2006 pukul 4:55 pm

    Saya tulis lagi bagian dari kutipan komentar saya di atas:

    “Enggak intelelek gitu loh…..Jaman sudah mdern begini kok masih pakai pola pikir kolot dan reaksioner. Ilmiah dikit napa?”

    Tolong untuk no.30 baca seksama ya komentar saya tersebut, yang gak ilmiah itu. Yang gak ilmiah itu apa? agama atau pola pikir?

    Balas
  • 9. agorsiloku  |  November 8, 2006 pukul 11:33 pm

    Pluralisme Agama?. Dunia ini tidak diisi oleh satu agama saja. Bertoleransi tidak berarti menjual keyakinan atau akidah untuk segepok sesuatu. Tapi hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan. Jadi, tidak dipahami sebagai “kamu benar saya benar”. Hari ini ke Gereja, besok ke Masjid. Lain kali sama-sama bertukar ritual ibadah di Pura atau Kelenteng. Tidak juga berarti harus semua benar atau memaksakan yang lain benar seperti “agama milikku”. Tidak ada paksaan dalam beragama, tidak juga semua benar (meski diyakini sebagai benar). Definisi pluralisme sendiri berbeda-beda. Namun istilah pluralisme itu sendiri memang beragam. Jadi, karena nggak baca bukunya Kang Jalal sulit untuk berkomentar. Kalau pun tidak sepakat, bukan berarti pula menyimpulkan seperti judul artikel di atas…

    Balas
  • 10. oktara  |  November 18, 2006 pukul 3:24 am

    Ass wr wb
    Saya kebetulan sudah baca paparan dari kang jalal mengenai pluralisme.Menurut saya tidak ada salahnya di menyampaikan pemikirannya ataupun penfsirannya ttg pluarlisme.Bahkan menurut saya beliat sanga bagus dalam penyampaiaannya dan alasannya pun cukup bagus.Jika beliau dituduh memutarbalikkan makna ayat qur’an saya kira terlalu berlebihan.Kang jalal mempunyai penafsiran sendiri dan andapun mempunyai penafsiran sendiri. Dan yg saya salut ,meskipun beliau mempunyai penafsiran sendiri tapi beliau tidak pernah menyatakan bahwa yang berbeda penafsiran dgn beliau itu salah,dan beliau tidak pernah menyampaikan untuk “BERTOBAT” kepada yang beda penafsiran.Tapi anda?..pendapat anda juga bagus,tp sayang..anda mengklaim seolah olah pendapat anda yang paling benar,bahkan menyuruh beliau bertobat.Bahkan tulisan anda “agak” keras menuduh orang lain salah. Saya jadi bertanya,siapa yg sebenranya harus bertobat?????
    Wass

    Balas
  • 11. wawan  |  November 18, 2006 pukul 8:50 am

    Sudut pandang/cara pandang tiap manusia tidak ada yang betul2 sama, Tdak ada Kebenaran yang hak dari semua pemikiran manusia… Coba artikan arti pluralisme itu dengan apa yang ditulis oleh kang jalal, sikapi secara positif.. jangan dengan sudut pandang anda. open u’r mind. Saya pribadi tidak berani mem-vonis orang untuk bertobat.. karena jangan2 saya sendiri yang harus bertobat. Saya suka teringat dengan kata2 Jalaluddin Rumi.. manusia itu seperti cermin.. apa yang dia pandang tentang orang lain… sesungguhnya.. itu adalah dirinya -carapandangnya- sendiri…

    Balas
  • 12. RiYo  |  Desember 8, 2006 pukul 2:52 pm

    Saya salut dengan kang jalal yang mencoba membedah pluralisme dari perspektif Qur’an dan sunnah, sebagai sebuah perspektif, tentu saja bisa diuji kebenarannya, tentu saja ada yang pro-kontra, jika ada yang tidak setuju, monggo! dengan argumentasi yang cerdas dan rasional. so jadi jangan cepat men’judge’ bahwa perspektif kang Jalal berbahaya, dan menyerukan untuk bertobat!!-saya kira yang berpendapat demikian adalah orang yang egois, dan keras kepala. dalam tataran ilmiah, penghargaan terhadap proses adalah yang utama, contoh mungkin ada yang keliru dari teori evolusinya-Darwin, tetapi komunitas saintis tidak menganggapnya bodoh apalagi diserukan untuk berTobat, mereka tetap menghargai perspektif Darwinian, ya itulah buat Adian husainni, belajarlah jadi ilmuwan sejati…

    Balas
  • 13. Fajar  |  Januari 9, 2007 pukul 2:31 am

    Aneh juga HARE GENE masih ada orang begitu takut akan adanya warna warni pelangi ciptaan Allah. Mengapa Adian Husaini begitu takut akan perbedaan? Kata “plural” menunjukkan kenyataan yang banyak. Pluralisme berarti jelas mengakui adanya perbedaan yang banyak, berarti mengakui banyak agama bukan menganggap semua agama sama. Dan agama Islam termasuk agama besar dunia, mengapa Adian Husaini begitu takut akan adanya agama lain? Apakah beliau beragama Islam, atau beragama kacangan yang baru exist, cari customer?? Tampaknya si Adian ini penganut Monoreligionisme bukan Monotheisme!!! Begitu sombongnya berani membatasi ALLAH Yang Mahakuasa sekaligus Mahapengasih.

    Balas
  • 14. Ibobz  |  Januari 25, 2007 pukul 10:10 am

    Tidak ada pluralisme dalam agama, pluralis itu realita namun pluralisme itu suatu yang salah……….

    Balas
  • 15. ichal  |  Juli 7, 2007 pukul 10:59 pm

    Hehehe….

    Sering kali kita ini sok tahu
    padahal sebenarnya tidak tahu

    mengatakan orang lain sok tahu
    padahal kita sendiri tidak tahu

    mengatakan orang lain tidak ilmiah
    padahal otak kita seringkali tidak ilmiah

    mengatakan orang lain kacang
    padahal kita sendiri masih kedelai

    tidak jarang kita mentertawakan orang lain
    padahal kita lebih layak mentertawakan diri kita sendiri

    dan yang memerihkan hati
    caci maki luapan emosi tak terkendali

    aku manusia, kamu manusia
    dia manusia, dan kita manusia
    mereka juga manusia

    biarkan aku bicara
    biarkan dirimu bicara
    biarkan dia bicara

    tanpa caci maki kita…

    sudah itu saja…

    Balas
  • 16. Carlos  |  Agustus 3, 2007 pukul 8:10 am

    Goblok juga nih orang…anak kecil ajah tau kalo yg kang jalal maksud bukan kayak gitu…
    inilah orang kalo otak nya prasangka buruk ajah isi nya..tolol
    Rahmatan lil alamin itu jangan kan orang yahudi nasrani..kecoak ama tokek ajah di pertanggung jawabkan oleh Nabi saw..
    ..apa lagi manusia yg punya agama…

    Balas
  • 17. Carlos  |  Agustus 3, 2007 pukul 8:23 am

    Ngajak orang bertobat lagi.?.emang Lu siapa..?
    udah yakin bgt selamat ?
    apa orang yang Lu ajak ngikuti Lu itu pasti selamat ?
    tai kucing…!!!
    Bawa2 Nabi saw lagi…
    kalo blom Ma’rifaturrasul jangan jualan kecap….
    ngajak-ngajak…mau ngajak kemana pak ?

    Balas
  • 18. zalmin la haza  |  Agustus 10, 2007 pukul 11:32 am

    Tuhan Menciptakan keaneka ragaman untuk kita nikmati bukan untuk dijadikan pertentangan. Perbedaan Agama bukan dijadikan untuk saling Melecehkan antara pemeluk agama tapi dijadikan sebagai pendorong dalam berlomba melakukan perbuatan baik dan amal shaleh.

    Balas
  • 19. afieta  |  Oktober 28, 2007 pukul 7:55 pm

    ass
    apapun itu, islam tatap adalah rahmat untuk semua, persolan apakah yg lain itu benar ataw salah itu adalah masalah tentang lu dilahiran dimana dan sama siapa…
    jadi………
    salama itu adalah hsl pikir, maka selama itu juga kemungkinan salah nya ada, persoalaln nya adalah sejauh mana qadar kebenaran yang iya pikir dan iya renungkan..
    wss

    Balas
  • 20. asad  |  Februari 27, 2008 pukul 4:13 am

    kang jalal berani untuk membongkar PERSFEKTIF BERFIKIR kita selama ini. mengapa hanya untuk berpikir berbeda mesti memvonis seseorang? buat aku kang jalal memberikan sudut pandang yang berbeda tentang kebveragaman dan keagamaan. maju trussss kang jalal

    sepakat, saya termasuk fans beratnya beliau sejak saya dibangku smu

    Balas
  • 21. indhi  |  Maret 5, 2008 pukul 11:27 am

    1. Saya sech, setuju2 aja ama pendapat Kang Jalal. Lebih baik Nasrani dan Yahudi yang peduli dari pada Muslim yang cuek dengan penderitaan saudaranya.

    2. Emang Allah pernah gitu berfirman atau lewat Rasul-Nya bilang klo surga cuma buat orang Islam doang ?

    3. Terakhir, saya rasa mausia tidak pernah punya hak untuk memvonisorang lain sesat atau kafir.

    Balas
  • 22. Zhellavie  |  Juni 29, 2008 pukul 2:32 pm

    Setelah saya baca tulisan diatas, saya hanya bisa ber-istighfar mohon ampunan pada Alloh sebanyak2nya….. menurut saya si Adian Husaini ini seakan2 malah lebih Tuhan dari Tuhannya Muhammad SAW, massya Alloooh… tulisan yg penuh emosi dan nafsu duniawi, semoga anda juga segera bertobat….

    Balas
  • 23. EMEN  |  Februari 16, 2009 pukul 9:27 am

    KALO MENURYT AKU SIH… SAH SAH AJA KALO PENDAPAT BANG RACHMAT TENTANG PURALISME APALAGI YANG DIKUTIP ADALAH AYAT tentang penafsiran QS al-Baqarah: 62, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Shabiin, siapa saja yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal shalih, maka mereka akan mendapatkan pahala dari sisi Allah dan tidak ada ketakutan dan kekhawatiran atas mereka
    YANG PERLU DILURUSKAN BAHWA AYAT TERSEBUT MERUPAKAN SEBUA AYAT HISTORI DALAM QURAN BUKAN KAH UMAT-UMAT YAHUDI DAN KAUM KRISTEN YANG BERIMAN SEBELUM DATANGNYA NABIMUHAMAD ADALAH ORANG ORANG YANG BERIMAN DAN LAYAK MEMPEROLEH SURGANYA ALLAH..YANG PERLU DIPERHATIKAN MENURUT HEMAT SAYA ADALAH BAGAIMANA MENGATAHUI ASBABUL NUJUB DARI AYAT TADI SO TIDAK ADAYANG KELIRU HAYA PERLU PENEGASAN BAHWA AYAT TERSEBUT BERLAKU BAGI UMAT YAHUDI YANG SETIA PADA MUSA KRISTEN YANG SETIA PADA ISA.. SEBELUMDATANG NYA MUHAMAD DAN ISLAM-NYA…

    Balas
  • 24. i think:  |  Mei 20, 2009 pukul 8:29 am

    LIBERAL = brain wash
    from the true convert to the wrong

    andai awal kehidupan kita di dunia adalah keinginan kita,
    tentu kita bisa berbuat sekehendak kita (baca: liberal) ..
    tapi semua tidaklah berawal dari kehendak kita .,
    namun bermula dari kasih sayang dari_Nya ..
    mengapa kita harus mengingkari_Nya ..
    mengapa kita cari penganti_Nya ..
    mengapa kita cari petunjuk selain_Nya ..

    Astagfirullahalazhiim ..

    ya Rabbii … yaa ALLAAH …

    Rabbana zalamna anfusina wa il lam taghfir lana wa tarhamna lana kuna minal-khasireen ..
    (Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

    Balas
  • 25. Ibnu Arman  |  Mei 26, 2009 pukul 6:54 am

    Wahai kaum pluralis, Anda ga usah puter-puter cari pembenaran, camkan saja ayat ini: Innaddiina ‘indallahil Islam (sesungguhnya agama yang pasti diterima di sisi Allah cuma Islam).

    Balas
    • 26. agit maulana  |  Juni 30, 2010 pukul 9:08 am

      jaka sembung bawa golok teu nyambung jang!!

      Balas
  • 27. agit maulana  |  Juni 30, 2010 pukul 9:07 am

    kalo agama bukan ilmiah dan logika buat apa kita beragama??trus buat apa allah memberikan otak??aneh….

    Balas
  • 28. amir fd  |  Agustus 9, 2010 pukul 1:50 pm

    segala yang ada didunia ini adalah perfektif, sangat-kurang aik jika kita memaksakan perfektif kita pada orang lain,, karena hanya Allah lah yang maha benar. .

    Balas
  • 29. kurang tahu  |  Juni 13, 2011 pukul 6:41 pm

    nah karna sudah jelas, ya kesimpulannya untukmu pendapatmu dan untukku pendapatku….jadi terserah kamu dan juga terserah aku… githu aja koq repot..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,511 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: