Ada Yang Terlupa

September 20, 2006 at 3:37 am 1 komentar

Beberapa hari kemarin saat liburan akhir pekan di Bandung saya menjalani hari2 biasa yg terasa menjadi begitu bermakna, meninjau panti asuhan pada sebuah pesantren di daerah cililin kab. bandung, main ke pasar seni ITB dan pergi ke hypermart, supermarket baru di bandung, moment2 tsb, seperti tak berhubungan, tapi ternyata ada rantai makna nya, tapi gemana ceritanya ? begini nih ceritanya..

sabtu pagi hari dengan seorang teman, saya pergi bersilaturahmi ke sebuah panti asuhan dalam lingkungan sebuah pesantren yg sederhana, pesantren Arafah, di tepi waduk saguling di daerah cililin, kabupaten Bandung, sekitar 1,5 jam naik mobil dari kota Bandung

Datang ke pesantren tsb, sejak masuk pintu gerbangnya, sudah terasa aura yg menggetarkan, pesantren seluas 2 hektar tsb, berada di tepi waduk saguling.

Bangunan nya sederhana, menggunakan kayu2 bekas bongkaran bangunan sebuah perguruan tinggi di Bandung, kata kiai nya setengah bergurau, daripada dijadikan kayu rongsokan, bongkaran bangunan tsb, lebih baik digunakan utk pesantren, amal jariyah nya akan terus mengalir…
total jumlah santri nya sekitar 300 orang dari seluruh Indonesia.

Dari ujung tepi bangunan ruang kelas, ada lapangan kecil yg dinaungi pohon palem dan di bawah nya terlihat waduk saguling yg mulai dangkal karena kemarau panjang ini, masih terlihat beberapa perahu kecil dan keramba ikan yg mengambang disana.

Area Pesantren tsb cukup lengkap, ada ruang sekolah, mesjid, asrama, dapur umum, bengkel. selain asrama utk santri juga ada asrama panti asuhan, dikelilingi pepohonan tinggi di sekitar nya, walau semuanya dibangun secara sederhana.

Di panti asuhan, ditampung anak2 terlantar, yatim piatu bahkan yg cacat, spt bisu tuli, pincang, tuna netra, autis dll. kata kiyai nya, sering kali polisi atau pihak lain yg menemukan anak terlantar di pinggir jalan,tak jelas siapa orang tua nya, kemudian dikirimkan ke pesantren tsb, dan kiyai nya tak pernah menolak, ditampung dan di asuh di panti tsb, melihatnya saya jadi teringat kisah madame theresa di India, yang banyak menyantuni orang2 miskin,orangterlantar,cacat dll.

miris sekali hati ini, melihat anak2 kecil yg terlantar, cacat, dll, yg se usia dg anak saya, duduk termenung di depan panti nya, menatap dg penuh harap pada kita yg datang ke sana. Ketemu seorang anak kecil yg duduk memelas, saya coba ngobrol tanya namanya, tapi ia diam saja, ternyata ia tuli bisu, kata pengurusnya, ia cacat bisu tuli, dan tak tahu siapa ayah ibu nya …,masya Allah,menyedihkan sekali nasib seorang anak kecil tsb hidup sebatang kara dalam usia yg masih muda. Semua yg ada disana, para santri, anak terlantar dll, disantuni oleh pesantren, sebagian ada yg bisa bayar, tapi kebanyakan adalah mereka yg tak mampu bayar sama sekali, seperti anak2 terlantar tsb.

siang hari selepas zuhur, berdatanganlah dengan membawa piring kosong, anak2 tsb ke dapur umum, yg menyediakan makan ala kadarnya pula. dapur umum tsb, tiap hari menyediakan makan siang utk sekitar 300 orang santri dan anak asuh, yg masak adalah ibu2 rumah sekitar dan santri putri, dengan bahan sayur, lauk pauk dari lahan pertanian di sekitar tempat tsb, saya perkirakan utk 300 orang tsb, habis dana sekitar Rp 150.000 sampai 200.000, coba bandingkan dengan jumlah yg kita habiskan untuk makan siang dg teman2 di restoran fast food di kelapa gading, Jakarta misalnya.

terlihat lagi anak yatim piatu dan cacat bisu tuli tadi, dengan sabarnya menanti pembagian makan siang, ia tak bisa banyak protes karena tak bisa bicara, melihat nya jadi terharu,sesak dada ini, hampir menetes air mata, terbayang begitu jauh nasibnya bila dibandingkan dg anak2 kita yg punya orang tua dan bisa hidup cukup, makan enak, namun masih sering mengomel juga…

sungguh sebuah potret kenestapaan, nasib seorang anak manusia, namun wajah mereka tetaplah ceria, mereka melakoni hidup ini apa ada nya betapa kesederhaan dan kemiskinan yg dialami sehari hari, terasa jadi indah bagi mereka, se indah alam sekitar nya, pebukitan dan lembah yg terisi air waduk saguling.

dalam perjalanan pulang ke Bandung, masih terbayang wajah anak kecil tsb yg sabar mengantri makan siang tsb .

Esok pagi nya, saya pergi ke daerah Dago, kampus ITB, utk melihat pasar seni ITB, event tahunan yg legendaris, yg diselenggarakan oleh anak2 seni rupa ITB, hadir ke sana sekalian bernostalgia ke kampus yg telah lama ditinggalkan .

Datang ke pasar seni tsb, dibandingkan dg perjalanan kemarin ke panti asuhan yg sederhana, terasa bagaikan memasuki sebuah dunia yg berbeda jauh

Pasar seni, dengan segala kemeriahan nya, begitu penuh sesak dg orang2 yg riang gembira, banyak stand2 yg menjual hasil seni, ada juga performance art,kegiatan seni jalanan yg nyentrik, pertunjukan musik, “tumplek blueg” istilah mereka, sejak dari jalan ganesha seberang mesjid Salman sampai ke dalam kampus ITB, satu hari itu demi seni, semua orang larut dalam kegembiraan. Para turis lokal dari Jakarta yg berbelanja di factory outlet sepanjang jalan Dago pun, yg lokasinya tak jauh dari kampus ITB, menyempatkan pula untuk hadir ke sana .

Nampaknya banyak, orang2 berduit, dari bandung dan jakarta yg hadir ke sana, apalagi masih tanggal muda,baru gajian . Datang pula anak2 muda nya dg pakaian2 yg nyentrik dan pasti mahal. bergembira ria, berkeliling area pasar seni, yg begitu heboh ..

Ada panggung besar pertunjukan musik yg hingar bingar oleh beberapa grup musik yg sedang kahot saat ini, spt band “Serieus” yg mana vokalis nya si Candil, adalah alumni seni rupa itb pula. Tapi tak nampak si Aming extravaganza yg juga alumni sana.

menengok harga barang2 seni spt lukisan yg dijual, rasanya susah utk dipercaya, bayangkan sebuah lukisan cat minyak seukuran 1m x 70 centi, bisa berharga puluhan juta rupiah, gambar nya pun sulit untuk difahami,dan aneh nya lagi ada tulisan sold out,artinya sudah terjual.

sebuah lukisan kaligrafi bisa berharga puluhan juga, padalah tulisan yg sama, ada saya lihat juga, tergantung di dinding kobong ( asrama ) pesantren yg saya lihat kemarin, betapa sebenarnya jumlah uang yg sama, bisa digunakan utk fasilitas tempat tinggal anak2 tak beruntung tsb.

siang harinya selepas sholat zuhur, saya dan rekan2 makan siang sejenak di sebuah stand makanan, ternyata harga nya pun cukup mahal, kata pedagang nya karena stand nya pun mahal, jadi wajar saja lah, walau mahal ternyata pembeli pun antri.

akhirnya makan lah kita bersama,kaget juga lihat bonnya, ternyata nilai makan kita bersama, sekitar 10 orang sama harga nya dg harga makan siang 300 anak santri dan panti asuhan di pesantren yg saya tengok kemarin…, can you imagine ?

bayangkan betapa mudah nya kita, menghambur2kan uang, tanpa menyadari bahwa pada tempat yg lain, banyak orang2 miskin yg kelaparan….

betapa banyak orang2 kaya yg kelebihan uang,membuang2 uang nya membeli barang2 yg sebenarnya bila tak mereka beli, tak lah membuat mereka menjadi susah hidup atau mati karena nya..

sempat ngobrol dengan teman yg buka stand, sewa stand pada acara tsb, berdinding triplek ukuran 3×4 meter, berharga sekitar 1 juta utk 1 hari saja….

bayangkan uang sejumlah itu, sudah cukup untuk membangun sebuah kamar asrama sederhana utk 4 orang anak panti asuhan, yg bisa ia tempati selama beberapa tahun….

membanding2 kan antara apa yg saya lihat kemarin(panti asuhan sederhana di pesantren) dg apa yg saya lihat siang ini (pasar seni), membuat saya tak bisa menikmati nilai seni yg dipamerkan, kenestapaan orang2 miskin, masih terbayang dalam pikiran ini….

betapa dalam jarak yg tak berjauhan, ada sekelompok orang yg bersuka ria, menghambur2 kan uang, dan ditempat lain ada sekelompok orang yg tak beruntung,hidup sederhana apa ada nya, tanpa masa depan yg jelas, begitulah kehidupan….

malamnya hari selepas magrib, keluarga mengajak jalan2 ke sebuah supermarket yg baru dibuka, kebetulan dekat dengan rumah, dan dapat dicapai dg jalan kaki.

Hypermart, supermarket baru dalam kompleks MTC, jl sukarno hatta- Bandung, baru dibuka dan menggelar pesta diskon. Supermarket berlokasi di lantai bawah,dari atas kelihatan sepi saja, tapi mengapa parkir mobil dan motor begitu penuh ?

saat turun ke lantai bawah, kaget juga ternyata sangat ramai yg berbelanja, padahal belum seminggu dibuka, kebetulan memang masih tanggal muda, baru pada gajian, tepat sekali pengelola tempat tsb mencari moment.

banyak sekali barang yg dijual, khas supermarket, segala ada, sampai tempat kassa pembayaran pun, antriannya panjang, butuh setengah jam kira2 utk membayar di kassa.

counter2 jualan begitu ramai dikerubuti pembeli, khususnya yg berlabelkan discount, saya coba lihat,barang apa saja sih yg dikerubuti para pembeli tsb, ternyata banyak barang2 elektronik yg memang sedang di diskon kata nya, mulai dari HP, handy cam, TV, DVD player, MP3 player

dari penampilan dan kendaraan nya para pengunjung saya bisa menilai kebanyakan mereka adalah kalangan menengah bawah juga,yg entah kenapa begitu terhipnotis utk membeli barang2 konsumtif yg tak esensial untuk kehidupan mereka.

Bagi kalangan menengah bawah, membangga2 kan diri pada tetangga,bahwa ia telah memiliki sebuah barang elektronik baru, nampaknya menjadi kepuasan tersendiri bagi mereka .

betapa sebenarnya banyak keluarga kalangan menengah bawah kita, yg terhipnotis gemerlap konsumerisme, barang2 produk kapitalis negara maju, menghabiskan uang nya utk hal2 yg tak produktif.

seorang rekan, peneliti asing, tak habis heran, betapa orang2 Indonesia sangat rakus membeli barang2 yg tak penting, menghabiskan banyak waktu di pasar, padahal di negara maju, orang hanya membeli barang seperlunya saja.

menurut sosiolog, itulah salah satu karakter “orang miskin”, walau banyak uang, ia masih berperilaku miskin ( tidak produktif,tidak efektif ) secara psikologis, dengan membeli sesuatu barang, ia mewujudkan mimpinya, dg bisa memiliki suatu barang, ia serasa sudah menjadi orang yg berhasil, sebuah keberhasilan semu….

betapa hipnotis konsumerisme yg menjejali pikiran kita melalui TV, radio, koran dll telah menggerogoti sebagian keluarga kita. Mungkin terlalu rumit menjelaskan nya, bahwa itulah ujung dari sistem Kapitalisme neo liberal, yg mewarnai ekonomi dunia saat ini, betapa para produsen,pengusaha para pemegang modal kapitalis, dengan kekuasaan nya yg menggurita, bahkan bisa menggenggam kekuasaan politis, telah mewarnai alam bawah sadar kita semua, contoh paling dekat, adalah iklan2 yg kita lihat di TV tiap hari.

ketika berada di supermarket tsb, pikiran saya terpulang lagi pada anak2 miskin di panti asuhan tadi itu, yg hidup apa adanya dg makanan ala kadar nya, betapa harga utk membeli sebuah boneka barbie sebenarnya bisa utk makan siang 20 orang anak2 miskin tsb.

betapa harga sebongkah TV home theater, sebenarnya bisa untuk membuat tempat tinggal sederhana yg layak bisa ditempati oleh beberapa keluarga gelandangan miskin yg berumah berdindingkan kardus dan triplek di pinggir rel kereta api…

betapa…betapa……dan banyak betapa lain nya

betapa orang2 yg punya uang, begitu mudah nya menghambur2kan uangnya utk sesuatu yg tak begitu penting, padahal pada sisi lain, betapa banyak orang2 miskin ygsusah payah utk bisa mendapatkan sesuap nasi di hari tsb

mungkin stigma bangsa koeli, yg berkeringat banyak, demi sesuatu yg tak produktif, sehingga ia tak keluar dari lingkaran kemiskinan masih membelenggu kita semua.., pada sisi lain, ada orang kaya, setidaknya mereka yg hidup berkecukupan tak mau peduli dengan orang lain.

saya banyak bertemu rekan2 yg sudah mulai kaya raya, ia lebih cenderung berfoya2, menikmati hidup dan tak mau peduli dengan orang lain. kilahnya, ini kan usaha kerja keras saya, wajar saya menikmati nya, orang miskin itu mah salahnya sendiri kenapa malas kerja…:???, dan banyak argumen lain nya

menurut hadits nabi, salah satu tanda manusia yg baik,ialah mereka yg banyak manfaat nya bagi orang lain, kepedulian pada sesama, membantu orang2 yg tak beruntung, orang2 miskin, cacat, terlantar dan orang2 tak beruntung lain nya demikian lah sekelumit episode kehidupan yg saya alami, melihat anak2 penuh nestapa di panti asuhan, kemeriahan pasar seni dan nafsu belanja di supermarket.

Alam terkembang jadi guru, kata paman saya di ranah minang sana, Iqra ( baca lah ) kata ustad saya (termasuk membaca / merenungi kondisi sekitar kita )

Kita perlu belajar, merenung dari alam sekitar, kehidupan sehari hari yg kita lalui, melihat pula dengan mata hati. menyetel “senar gitar” hati nurani kemanusiaan kita, agar bisa mengalunkan melodi yg indah, mewarnai kehidupan ini. peduli pada sesama manusia, pada orang2 yg tak seberuntung kita kehidupan nya, orang2 yg hidupnya dibelit nestapa kehidupan, karena pada hakikat nya kita semua yg diberi kesempatan hidup yg sama di dunia yg fana ini.

Entry filed under: Inspiring. Tags: .

Suvenir Uang Pernikahan Keluarga Cendana Dikritik Ada Yang Baru

1 Komentar Add your own

  • 1. M.Ningamullah  |  November 25, 2006 pukul 8:58 am

    saya sependapat dengan semua tulisan anda. mari bantu para kaum dhuafa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

Lebih Banyak Foto

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 232,463 hits

Catatan Lalu

Jadwal

September 2006
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: