Memenjarakan Anak dengan Kebebasan

Desember 13, 2006 at 2:01 am Tinggalkan komentar

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim [ usahamulia.net ] Saya nyaris tak percaya ketika datang seorang anak yang wajahnya tampak linglung. Raut mukanya mengingatkan saya pada anak-anak yang idiot atau debil. Wajah yang tidak memancarkan semangat. Di matanya, yang ada hanya tatapan kosong tanpa cita-cita.

Rasanya sulit percaya bahwa anak itu hadir ketika saya baru saja menuliskan kata linglung untuk prolog buku “Menuju Kreativitas” karya sahabat saya, Mas Wahyudin. Awalnya saya kira anak yang putih bersih itu, mengalami keterbelakangan mental bawaan sejenis idiot. Tetapi ketika melihat reaksi-reaksi di wajahnya, saya mulai menangkap bahwa anak ini sebenarnya normal. Pengasuhanlah yang telah membuat ia kehilangan kekayaan yang paling berharga: “jiwa yang sehat dan hidup”.

Lalu, apa yang membuat anak itu sampai begitu mengenaskan jiwanya? Beban apa yang memberatkan dirinya sehingga hampir-hampir tak sanggup lagi untuk berpikir?

Bukan kemiskinan yang membuat tatapan matanya kosong dan hampa. Bukan
kesusahan yang menjadikan jiwanya penat dan lelah. Tetapi kebebasan untuk
bermain game, kapan pun ia mau. Anak sekecil itu, di usianya yang baru
berkisar 8-9 tahun, telah menghabiskan sepertiga dari usianya setiap hari
untuk hanyut dalam permainan video-game yang menegangkan. Seluruh energinya
seakan telah habis untuk memelototkan di depan layar komputer, berpacu
dengan suara perang-perangan yang mendebarkan.

Saya segera teringat dengan tulisan yang belum selesai saya ketik. Di prolog
itu, sempat saya bercerita sejenak tentang Milton Chen. Dalam bukunya
berjudul The Smart Parent’s Guide to KIDS’ TV, Chen menunjukkan bahwa waktu
menonton yang cukup sehat adalah berkisar 8-10 jam seminggu. Dengan kata
lain, lamanya waktu menonton sebaiknya berada pada rentang 1 jam 9 menit
sampai dengan 1 jam 25 menit. Itu pun dengan catatan tayangannya masih cukup
sehat. Jika tayangannya benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya
nalar anak, mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu
sudah tidak sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan, jam
menonton harus dipersingkat.

Banyak yang menarik dari buku Milton Chen. Tentang bagaimana tayangan
kekerasan merangsang agresivitas anak, tentang bagaimana TV menumpulkan
perasaan dan kasih-sayang kepada orang lain, atau tentang bagaimana TV
merampas waktu anak yang paling berharga. Tetapi saya tidak ingin
menyibukkan Anda dengan hasil-hasil penelitian itu. Cukuplah kita merenung
sejenak tentang waktu yang kita berikan untuk anak-anak kita. Barangkali
banyak di antara kita yang merasa aman dengan kebebasan yang kita berikan
pada anak untuk menonton, padahal 4 jam sehari (28 jam seminggu) di depan TV
ternyata sudah termasuk kategori membahayakan. Benar-benar mengancam mental
dan kepribadian anak. Apalagi kalau tayangan itu berupa video-game yang dari
detik ke detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma memancing
reaksi impulsif anak.

Diam-diam saya merasa khawatir, jangan-jangan banyak di antara kaum muslimin
-bahkan dari mereka yang punya komitmen dakwah-mengizinkan anaknya duduk
manis di depan TV lebih dari 4 jam sehari. Kalau itu terjadi, akan lahir di
sekeliling kita anak-anak yang tak punya inisiatif, tumpul otaknya dan mati
gagasannya -meskipun IQ-nya sangat tinggi. Akan lahir anak-anak yang hatinya
beku dan jiwanya mati, sementara syahwat besar berkobar-kobar. Mereka inilah
yang bisa terkena robopath sebelum dewasa, semacam patologi jiwa yang
membuat mereka seperti robot. Bertindak tanpa pikiran, bergerak tanpa jiwa.
Yang ada hanya jebakan aktivitas yang membelenggu.

Dampak ini akan lebih terasa jika yang dipelototi anak bukan lagi TV, tetapi
video-game berat. Anak yang hanyut dengan video-game sampai tingkat yang
sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru sebaliknya
amat agresif. Mereka bisa seperi orang linglung. Tak tahu apa yang harus
dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka berperilaku sangat agresif karena
pengaruh adegan yang disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan.

Setiap kali memainkan video-game, anak juga terangsang bertindak impulsif.
Kalau tidak ada kegiatan penyeimbang yang memadai, anak-anak itu bisa
kehilangan kendali emosi. Mereka tidak mampu mengembangkan kecakapan emosi
yang sehat, normal dan baik. Bahkan bisa terjadi, anak-anak itu mengalami
cacat emosi (emotionally handicapped), meskipun pada awalnya normal. Anak
yang saya ceritakan di awal tulisan ini merupakan contoh bagaimana
video-game telah menjadikannya seperti anak idiot. Ia tidak nyaman berada di
lingkungan yang tidak dikenal karena keterampilan emosi dan sosialnya telah
rusak.

Bagaimana bisa demikian? Anak ini memelototi video game berat yang ada di
komputernya rata-rata delapan jam sehari!!! Apalagi pada waktu libur, bisa
lebih lama lagi. Kalau dihitung delapan jam saja, berarti lebih dari separo
waktu jaganya digunakan untuk duduk terpaku. Ia hanya berinteraksi dengan
kekerasan, gambar yang bergerak cepat, ancaman yang setiap detik selalu
bertambah besar, serta dorongan untuk membunuh secepat-cepatnya. Anak
mengembangkan naluri membunuh yang impulsif, sadis dan ngawur. Ia tekan apa
saja secara membabi-buta seraya memuntahkan serangan maya secepat mungkin.

Andaikan sesudah memelototi video-game otak anak bisa segar, delapan jam
sehari sudah terlalu banyak. Jauh lebih banyak daripada titik bahaya nonton
TV, yakni 4 jam sehari! Padahal, video game menyerap energi psikis anak
lebih besar daripada TV. Beberapa jam sesudah memelototi TV, otak anak masih
tetap dibebani oleh permainan yang ada di video game. Anak dikejar oleh
bayang-bayang untuk menuntaskan permainan dan memenangkan pertarungan.
Praktis, anak tidak siap menerima rangsangan lainnya. Lebih-lebih rangsangan
yang daya tariknya lemah dan tidak memberi aktivitas menantang, akan sulit
menyentuh wilayah psikis anak. Nah, proses belajar akademis termasuk
rangsangan yang cenderung tidak menantang, monoton dan lamban -dalam hal ini
bagi anak-anak yang kecanduan video-game.

Kalau ini terjadi, mereka akan merasakan suasana kelas seperti penjara bagi
jiwanya. Tubuhnya ada di kelas, tetapi pikirannya, rasa penasarannya dan
keinginannya ada di video-game. Ada suara-suara guru yang masuk ke telinga,
tetapi tak ada yang terekam. Ibarat komputer, registrynya sedang error.
Tampaknya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk mengolah bayang-bayang
game yang mendebarkan. Inilah yang menyebabkan anak tidak bisa memproses
pelajaran yang diberikan kepadanya. Sama seperti komputer, sistemnya macet
(system halted). Hang. Tidak bekerja.

Apa yang bisa dilakukan jika akibatnya sudah separah itu? Terapi. Ini
berarti orangtua tidak bisa melakukan sendiri, kecuali jika orangtua adalah
psikolog anak yang berpengalaman. Bisa jadi proses terapinya tidak bisa
dilakukan oleh satu orang. Harus melibatkan ahli-ahli lain untuk
mengembalikan anak pada kondisi normal, bisa belajar berpikir dengan baik,
mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan sekolah, serta dapat
mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah dengan wajar. Terapi juga
diarahkan agar anak bisa belajar mengelola emosinya, mampu menghidupkan
perasaannya dengan baik dan sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif
positif. Itu pun dengan catatan, proses terapi tidak bisa menjamin selalu
berhasil dengan sempurna. Selalu ada kemungkinan proses terapi itu masih
meninggalkan masalah, meskipun kecil, terutama jika orangtua tidak dapat
diajak bekerjasama dengan baik. Tentu saja, sangat mungkin proses terapi
akan mampu mengatasi masalah dengan sempurna. Tetapi berhati-hati agar tidak
timbul persoalan yang berat, adalah jauh lebih baik.

Persoalannya, kenapa sebagian orangtua dengan mudah menyediakan alat-alat
permainan semacam itu? Banyak kemungkinan.

Pertama, orangtua tidak mau repot dengan anak. Mereka belikan anak apa pun
yang dapat membuatnya diam. Kadang tanpa sadar, orangtua melakukan dengan
melemahkan rasa sayang anak pada orangtua. Ketika anak rewel, orangtua
segera menyodorkan TV, VCD, video-game atau apa pun yang dapat membuat anak
diam. Padahal cara ini bisa berdampak pada lemahnya keterampilan emosi anak.
Mereka tidak belajar bagaimana mengelola keinginan atau mengambil
pertimbangan.

Pada sebuah kasus, seorang anak mempunyai gejala persis seperti anak
pengidap autisme. Setelah ditulusuri, anak ini ternyata pada dasarnya
normal. Pola asuh orangtuanya yang membuat anak cacat emosi. Kedua orangtua
bekerja dan begitu tiba di rumah, mereka sibuk melepas lelah dengan menutup
di kamar. Setiap anak rewel, orangtua menyodorkan tawaran-tawaran berupa VCD
dan game. Tak ada sentuhan.

Kedua, orangtua tanpa orientasi pendidikan yang baik. Mereka memberikan
mainan apa saja asalkan anak senang. Mereka bisa terlibat dalam permainan.
Hanya saja mereka tidak memiliki arah, sehingga apa pun yang sedang trend
akan diberikan kepada anak. Sedihnya, sekolah pun ternyata tak sedikit yang
miskin orientasi.

Ketiga, semangat tanpa ilmu. Mereka belikan anak berbagai bentuk alat
permainan, termasuk video game, karena menginginkan anaknya maju, modern dan
kreatif. Mereka memberi alat permainan karena mendengar bahwa kegiatan
bermain sangat penting untuk merangsang kecerdasan, kreativitas, inisiatif
dan semangat anak. Sayangnya, mereka lupa bahwa alat permainan -atau yang
dianggap sebagai alat permainan-tidak sama dengan bermain.

Kegiatan bermain akan menyegarkan pikiran anak, menyenangkan dan menggugah
anak untuk lebih aktif. Tetapi alat permainan tidak selalu positif. Sebagian
alat permainan bisa berfungsi sebagai alat terapi atas berbagai jenis
gangguan psikis anak. Sebagian justru bisa mengganggu.

Masalah ketiga ini agaknya perlu saya tekankan. Saya pernah merasa sangat
sedih ketika suatu hari seorang guru mengajarkan tepuk sambal kepada anak.
Atas nama kreativitas dan fun, guru mengajarkannya. Padahal dari segi isi
kalimat maupun gerak, nyaris tak ada yang bisa dipetik.

Termasuk semangat tanpa ilmu adalah perkataan sebagian orangtua tentang
kebebasan. Mereka pernah membaca tulisan yang cuma sekilas bahwa anak perlu
diberi kebebasan agar anak cerdas, kreatif dan penuh inisiatif. Mereka
akhirnya benar-benar belajar “menghargai” setiap keinginan dan pendapat
anak. Tetapi rupanya menghargai dianggap sama dengan menuruti tanpa kendali.
Walhasil, inginnya memberi kebebasan pada anak, yang terjadi justru
memenjarakan anak dengan kebebasan. Bermula dari kebebasan tanpa arah, anak
kehilangan saat berharga untuk belajar bersosialisasi. Anak tak punya
kesempatan untuk belajar mengelola emosinya.

Agaknya. ada yang perlu kita renungkan tentang cara kita mendidik anak.

About these ads

Entry filed under: Pendidikan. Tags: .

Anjuran Untuk Menikah Mengeluh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Album Photo

Seminar Anak MimHA

S528394 02

meandanne

More Photos

This website is worth
What is your website worth?

Kunjungan Temen

  • 222,920 hits

Catatan Lalu

Jadwal

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: